Senin kemarin, seorang rekan kerja berkomentar tentang penampilanku, “Rif, coba gih potong rambut. Kalo panjang gitu kan kamu kelihatan kucel.” Aku senyum tersipu, pingin garuk kepala nggak jadi, malu. Rekan yang lain ikut menimpali, ”Tuh, dengerin apa katanya.” Langsung pada disambut gelak tawa. Hei, ternyata masih ada juga yang memperhatikan ya. Besok senin, jika kita bertemu lagi, pasti potongan rambutku sudah pendek dan rapi, gumamku.
Pagi kemarin, sebelum mandi, aku bersiap dengan gunting dan sisir. Spion truk sudah ditegakkankan di tubir jendela. Menghadapnya, kumulai memainkan gunting di tangan kanan, sedang tangan kiri menggenggam sisir. Crash..
Kali ini seorang rekan yang lain mulai menggodaku. “Hei, lagi nggak punya duit, tah? Potong rambut sendiri.” Lagi-lagi dia tertawa terkekeh. Peduli amat, kujawab dengan sedikit jutek, “Iya.” “Aih, ada nggak yang mau minjemin Arif duit buat potong rambut di salon. Lima ribu aja.” Ia memanggil seorang rekannya. Tawanya kembali meledak. Bahunya terguncang saking merasa lucunya. “Bisa nggak potong rambut sendiri, tuh?” Dan pertanyaannya terakhir ini membuatku memanas.
“Eh, apanya yang lucu. Berapa tahun kamu potong rambut di salon? Apa yang kamu pelajari? Harusnya kamu tahu bagaimana caranya memotong rambut yang benar. Anak lelaki juga seharusnya mempunyai ketrampilan ini. Mau tahu berapa lama aku melakukan ini? Tujuh tahun!” Jawabanku membuatnya sedikit bungkam, ia tak meneruskan lagi ocehannya. Selesai.
Tujuh tahun lalu..
Kekecewaan yang aku sesalkan. Bagaimana tidak? Potongan rambutku ini terlalu pendek, seperti potongan tentara. Kalau gini kan kelihatan jelek. Padahal tadi aku sudah bilang ke bapak tukang cukurnya, agar dipanjangin dikit aja. Sebal. Sore ini aku pulang dengan muka tertekuk, meski paginya tak ada teman kelas yang meledek. Biasa saja menurut mereka.
Beberapa bulan sesudahnya, rambutku sudah memanjang kembali. Waktunya dipangkas. “Pokoknya, aku tak mau ke tukang cukur itu lagi.” Bujukan Ibu tak mempan, meski Bapak sudah menawarkan biaya jasanya nanti. “Pokoknya, aku mau potong rambut sendiri!”
Cermin komestik punya Ibu kuambil, begitu juga gunting jahitnya. Kupatutkan diri di cermin. Mengira bentuk model potongannya nanti. Tanpa ketrampilan dan pengalaman sama sekali, tanganku mulai beraksi. Crash! Beberapa jumput rambut berjatuhan di bahu, sebagian mendarat di lantai. Sepertinya mudah melakukan pekerjaan ini. Aku senyum-senyum sendiri. Ternyata, memang mudah.
Setengah jam berlalu, rambutku sudah memendek. Sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kembali aku mematut di depan cermin. Rupanya, ada sedikit masalah. Oh, tidak! Itu masalah besar, Kawan. Rambutku pitak-pitak semua. Huwaaaa..!!!
Aku panik. Berlari ke dalam mencari Ibu. Memohon kepadanya untuk merapikan potongan rambut yang telah pitak ini. Ibu tak bisa, meski beliau terbiasa memotong bahan untuk pakaian. “Kain itu lain dengan rambutmu, Nak.” Kemudian, Ibu membujukku agar ke tukang cukur saja. Aku bersikeras, tak mau.
Kuhampiri Bapak. Merajuk. Menunjuk wajah memelas. Berkali memohon. Akhirnya, Bapak tak tega juga. Gunting dan sisir kuserahkan kepadanya. Bapak sebenarnya bingung, tak pernah juga beliau mencukur rambut seseorang. Kuyakinkan Bapak, pasti bisa. Kutunjuk ini itu untuk memangkasnya. Sedikit demi sedikit. Mulai rapi. Setidaknya itu menurutku. Dadaku lega.
Keesokan harinya, kelas menjadi gempar. Kawan-kawan lelaki berebut tawa. Semua perhatian menunjuk pada rambutku. Aku garuk-garuk kepala memasang tampang cengar-cengir. Malu tak tertanggungkan. Duh, harus kusembunyikan di mana mukaku (dibungkus pake kresek hitam aja ya, biar nggak kelihatan :P ) Beeh, bagaimana mereka bisa tahu..
“Potong di mana kamu, Rif? Kok pitak-pitak gitu.. Hahaha..”
Oi, rupanya masih jelas. Aku nyengir kuda, “Potong sendiri, lalu diteruskan sama Bapakku. Keren kan?” Tawa mereka semakin tergelak. Memegangi perutnya sendiri saking terbahaknya. Sudahlah.. (aku jadi ikutan tertawa mengingatnya).
Ternyata, butuh waktu untuk belajar memangkas rambut. Setelah kejadian pitak itu, sesekali dua kali, aku mau datang ke tukang cukur. Merelakan rambutku dipangkasnya dengan model potongan yang kurang kusuka. Tak apalah, terpenting aku bisa mengendap-endap mencuri ilmunya.
Lain waktu, kuminta kawan sendiri yang mencukur rambutku. Tak apalah, meski bukan model yang kuinginkan. Tak enak, sudah gratisan main tunjuk pula. Ini harus itu, itu harus ini. Hasilnya lumayan, menghemat uang jajan.
Dari belbagi kesempatan dicukur oleh beberapa khalayak itulah, aku mulai mengerti sedikit tekniknya. Satu waktu kupraktekkan sendiri di depan cermin. Kejadian pitak-pitak masih terbayang, segera kuenyahkan. Hasilnya, setelah lama berkutat di depan cermin, potongan rambutku masih juga sedikit pitak. Wuaa..! Tak mengapa, butuh waktu, demikian hiburku.
Dari beberapa kali percobaan kepada diri sendiri itulah, akhirnya sedikit demi sedikit pitaknya mulai berkurang. Aku butuh lebih banyak kesempatan berkreasi lagi. Ketika melihat rambut adikku yang sudah memanjang dan Ibu menyuruhnya pergi ke tukang cukur, aku kegirangan. Kubujuk adik agar mau bercukur denganku saja (tentu dia menjadi kelinci percobaan pertamaku). Awalnya ogah-ogahan, bersikeras tak mau. Namun, dengan iming-iming upah untuk tukang cukur nanti masuk ke kantong jajannya. Ia dengan polosnya, malahan bersemangat. Hasilnya, tak jauh berbeda, masih ada pitaknya satu dua. Aku pun tak memberitahu tentang kekurangan ini. Malahan mengatakan semuanya sempurna. Curang? Biarkan saja, toh ia tak tahu. Hehe..
Itu tujuh tahun yang lalu, sekarang pun aku masih melakukan hal yang sama. Memotong rambut sendiri. Bukan karena tak punya uang, justru karena ada kepuasan bisa membentuk model rambut sesuai yang diinginkan. Lain waktu, adik juga kadang meminta aku mencukur rambutnya. Tak ada lagi pitak.
Ingin tahu bagaimana hasil mencukur sendiri. Jika kalian pernah bertemu atau kopdar denganku. Sebenarnya, aku sering merapikannya dahulu, sendiri, sebelum bertemu denganmu. Itulah, kalian akan tahu apakah masih ada pitak-pitaknya tidak. Hihihi..
Kalau ada yang bertanya, “Rif, buka jasa pangkas rambut aja.” Oi, itu belum dipikirkan ^^
Eh, adakah yang menganggap aneh dengan kebiasaanku ini :?
*pondok delima, 281o2o11 o8:42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar