23 Aug 11, H-5
Beberapa bulan silam, aku pernah berjanji untuk silaturahim ke rumahnya mbak Dew di Malang. Liburan lebaran ini tampaknya waktu yang paling tepat karena libur lama selama dua minggu penuh. Sesampai rumah selepas perjalanan mudik dari Cirebon, segera kuhubungi seorang tetangga yang juga seorang kawan sekampung. Kuajak dia menemaniku dalam misi ini—bersepeda motor ke Malang. Namun, malangnya ketika aku meminta ijin Ibu. Beliau tak merestui, menolaknya tegas. Bilang aku masih capeklah, jauhlah, dan aku beringsut mundur tanpa mengutarakan alasan apapun. Hanya minta jeda beberapa hari lagi, semoga diijinkannya.
Kebiasaanku ketika mudik dari Cirebon adalah jarang memberitahukan kedatanganku ke kampung. Yang kupamiti hanyalah seorang adik yang tinggal di sana. Kedatanganku yang tiba-tiba ini tentu menjadi sesuatu yang mengagetkan, tapi karena keseringan, ortu pun maklum adanya. Tak banyak menanyakan kenapa, seperti saat-saat pertama kalinya.
Sengaja, memang aku tak mau memberitahukan perjalanan ini tersebab tak ingin ortu khawatir juga berharap-harap. Ketika aku berkunjung ke tetangga—seperti biasanya ketika kupulang—ada yang bertanya, “Di rumah Ibumu masak apa? Apa tidak masak special untuk anaknya yang pulang? Emang, nggak ngasih tau kalo mau datang ya?” Cukuplah, sebuah anggukanku menjawab semuanya. Nah, begitulah adanya. Terkecuali kalau aku sedang di rumah, pergi main ke rumah teman yang dekat pun sering ijin. Kemanapun kuharuskan pamitan kepada Ibu, apalagi akan pergi perjalanan jauh.
Akhirnya, aku pun terpaksa menundanya beberapa hari lagi. Berhubung liburan barulah dimulai, kualihkan rencana ini ke Wonosobo, kopdar ke rumahnya mbak Nessa. Kuhubungi lagi Ikah (dia lelaki, biar nggak salah paham mengenai namanya, red)mengajaknya ke sana. Ia menyetujui, akan berangkat jam berapa, tanyanya. Sehabis sahur, kataku. Nanggung, lepas subuh saja, balasnya. Baiklah.
Lepas subuh, ternyata udara perkampungan masih terasa dingin. Aku enggan beranjak mandi—apalah itu tak terpikirkan Ikah menahan gigilnya, memaksakan diri mandi dan menungguku di rumahnya—sementara yang ditunggu malah masih asyik meringkuk. Ahai, sungguh terlalu… Beruntung, Ikah adalah kawan yang baik yang tak suka ngambeg ^^
Setengah tujuh, kutelepon. Ia bertanya, jadi tidak ke sana. Oya, aku belum mandi, demikian jawabku masih dengan nada lemas. Seperempat jam kemudian sampailah aku di rumahnya. Ia sedang sibuk memperbaiki bangku panjang. Memaku kaki-kakinya yang reyot. Tunggu, sebentar lagi ya. Setengah delapan, akhirnya kami berangkat.
Sejujurnya, aku tak pernah ke Wonosobo sekalipun. Begitu pula dengan Ikah. Berbekal peta mudik kepunyaan adik, kami berangkat melalui Parakan—sebuah jalan penghubung Temanggung-Wonosobo. Jalanan saat itu tak terlalu ramai, namun di beberapa titik perkotaan dan pasar ada kemacetan. Dari Klaten sampai Parakan kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan berkendara motor.
Untuk menuju kota Wonosobo haruslah menaiki jalan diantara dua gunung; Sindoro di sebelah barat laut kota Temanggung, sedang Sumbing di barat daya kota Temanggung. Hal yang menarik di daerah ini ialah dapat menjumpai puluhan colt dengan bak terbuka mengangkut pelepah pisang kering yang ditekuk dan disatukan dalam keranjang anyaman bambu. Ditumpuk. Menggunung. Mungkin, pelepah-pelepah kering tadi berhubungan dengan tembakau yang dihasilkan daerah ini. Sampai saat ini, aku masih penasaran tentang pelepah kering tadi. Adakah yang mau bantu menjelaskannya?
Udara di daerah ini terhitung dingin. Meski panas sedikit menyentuh bumi, tak urung udara mampu menggigilkan tubuh. Kutangkupkan tangan mencipta kehangatan. Nafas pun sedikit-sedikit kuhembus melalui mulut. Mengakali keadaan.
Jalanan yang dilalui menanjak, berkelok, dan curam. Jalanan khas pegunungan. Di beberapa bagian akan dijumpai hamparan ladang yang ditumbuhi tembakau. Menghijau. Berderet-deret lepas sampai ke tengah bukit. Di kaki-kaki Sindoro-Sumbing yang berdiri dengan gagahnya.
Sepanjang perjalanan, hanya sedikit dijumpai tanaman teh, itu pun berada dipinggir jalan. Sedikit berwarna kecoklatan karena tertutup debu. Tampaknya tanaman ini masih kurang laku dan diminati petani sekitar ketimbang tembakau.
Di perkampungan, aktivitas petani sangatlah mudah diamati. Sebagian besar telah melalui masa panennya. Tembakau yang telah selesai dirajang dan diiris halus, mereka jemur di terik matahari. Umumnya di depan rumah atau perkebunan. Lapangan dan tempat terbuka lainnya, juga dipenuhi tembakau-tembakau yang dijemur. Mereka menggunakan bambu yang dianyam datar dan kaku membentuk bidang selebar kurang lebih 1x2 m. Cara membaliknya pun cukup unik. Dua bidang anyaman bambu tadi ditangkupkan, lalu dibalik, begitu seterusnya.
Sebelum sampai di wilayah perkotaan, turunan yang bisa dibilang curam. Sebuah papan menyita segenap perhatianku. Tertulis dengan jelas, ‘jalur evakuasi’. Di tempat kami, tulisan seperti ini menunjukkan jalur-jalur yang dianjurkan dilalui pengungsi semisal ada bencana alam seperti letusan gunung berapi. Umumnya menuju desa atau kecamatan. Tapi, di dataran tinggi seperti ini, tidaklah mungkin. Apalagi aktivitas Sindoro-Sumbing tidaklah pernah terdengar. Penasaranku ini berujung pada sebuah jalan bercabang di sebelah kiri jalan. Menanjak, lebar, berpasir berundak, dan buntu. Berpasir dan buntu?! Ikah tertawa, ia sudah tahu jawabannya. Jalur ini ternyata berfungsi untuk kendaraan roda empat yang kehilangan kendali karena rem blong, hingga jalur itu meminimalkan kendaraan tadi tidak keblabasan ataupun masuk jurang. Sesuatu yang sekali ini kutemui, tetapi tidak di daerah lain.
Memasuki daerah kota Wonosobo, bidang sudah datar meski beberapa bagian jalan lebih tinggi dari rumah penduduk. Pemandangan asri, pohon-pohon tinggi tertata rapi di pinggir jalan, terkesan teduh. Sesampai di jantung kota, ternyata ada masalah. Aku benar-benar tak tahu di mana alamat mbak Nessa. Beberapa kali aku mencarinya di blog. Ya, nyatanya memang aku tak pernah bertanya alamatnya. Sedang alamat yang dulu pernah ia kirim ketika menghadiahi sebuah buku di hari ulang tahunku, aku lupa mencatatnya, tertinggal di kamar kost. Akhirnya, kutemukan petunjuk. Istana Rumbia, taman bacaan milik ibunya. Paling tidak kami tak kesasar sampai ke Dieng—kami berputar lagi ke selatan setelah melihat peta. Hei, ini jalan yang salah, Bung. Balik maning!
Rumah mbak Nessa tepatnya di daerah Pasunten, Lipursari, Leksono--sebelah selatan kota Wonosobo. Setengah jam dari sana. Di sebuah pertigaan kami sedikit ragu karena tak ada penanda jalan. Sejenak berhenti dan bertanya kepada adik-adik yang sedang asyik berjalan. Dimana..dimana..oh dimana..
Adik-adik menjawabnya dengan detail. “Ada pos ojek di sebelah kiri, naik terus Bang, terus…terus…nah, entar tanya lagi ya.” Rupanya, adik-adik tadi tak mengatakan kalau jalannya menanjak lalu menurun. Kami sempat ragu, apalagi setelahnya jalan menurun curam. Jangan dibayangkan itu jalan aspal ataupun beton. Jalan yang harus kami lalui untuk menuju perkampungan mbak Nessa hanyalah batu kali warna hitam disusun rapi. Saling menonjol dan di beberapa bagian hilang membentuk cekungan. Kami harus ektra hati-hati menuruni jalanan curam ini. Sisi kiri tebing sedang sebelah kanannya kebun lebat—boleh dibilang jurang karena letak jalan beberapa meter di atas kebun.
Sampai perkampung pertama, kami bertanya lagi kepada adik-adik yang sedang bermain di depan rumah. Berharap kami sudah sampai, mengingat jalanan yang kurang bersahabat. Olala, nyatanya masih jauh. Demikian keterangan dari adik-adik. Selanjutnya, memasuki perkampungan, beberapa jauh jalanan dibeton, sebagian lainnya masih berupa susunan batu kali. Lebih ke dalam, ada jalanan kecil beraspal yang terawat. Sesampai di kampung kedua, kami berhenti memastikan. Bertanya lagi kepada seorang bapak yang sedang mengecat masjid. Bertanya, dimana..dimana..oh dimana..
Sesuai dengan petunjuk si bapak. Akhirnya, kami sampai di Istana Rumbia, rumah ibunya mbak Nessa yang seorang penulis juga; Maria Bo Niok. Oleh adiknya kemudian kami diantar ke rumahnya. Tak seberapa jauh, melewati tanjakan bebatuan dan memangkas waktu sekitar lima menit.
Tak pernah terbayang bahwa rumahnya mbak Nessa ternyata berada di kaki bukit. Naik turun jalanan curam penuh bebatuan. Jauh dari jalan utama. Udara di perkampungan itu lebih lembab dari daerahku. Begitu dinding-dinding rumah tersentuh. Nyeess..berasa sekejap seperti memegang es. Dingin.
Adiknya menuju ke dalam, memberitahukan kedatangan dua orang tamu. Tak lama, dari pintu muncul sosok yang kutunggu. Inilah saat bertatapan langsung dengan mbak Nessa. Kopi darat akhirnya terlaksana setelah lama perjalanan tertempuh kurang lebih 3,5 jam. Waaa..betapa bahagianya :D
Bagaimanakah kesan pertemuan dengan mbak Nessa Kartika? Apa yang menyebabkan kami langsung menuju ke Cirebon yang berarti mudik untuk kedua kalinya? Insya allah kita bertemu lagi di catatan perjalanan yang ketiga. Salam pena!
*pondok delima, 121o2o11 18:o5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar