Senin, 10 Oktober 2011

Cacatan Perjalanan : Mudik 2011

23 Aug, H-7

                Seorang tukang sate yang menjadi langgananku menanyakan perihal kepulanganku ke kampung. Aku jawab, mungkin malam ini atau entahlah—aku belum memutuskannya. Malam telah beranjak ke isya, sedang saat itu aku pun belum ada niatan mudik. Semua berjalan seperti malam berikutnya. Di kost sendiri, sepi, dan berteman mimpi.

                Kuhubungi seorang rekan, menanyakan apakah besok adakah kerjaan di pabrik. Ia menjawab kosong. Semua akan kembali masuk kerja dua minggu lagi. Aku menimbang. Tak berapa lama kuambil keputusan ini. Segera pulang!

                Tanpa persiapan maksimal, kulakukan perjalanan jauh ini. Berbekal seadanya, aku memulai dengan mengucap basmalah. Semoga perjalanan lancar.

                Cirebon, sekitar pantura, angin bertiup sangat kencang. Aku merutuk dalam hati. Bukan karena kencangnya angin, tapi celana yang kupakai sangat tipis satu lapis. Menggigil aku sepanjang perjalanan ini. Menahan gemeretak dingin yang mulai menggigiti tulang. Berhitung, berbalik pulang tidaklah mungkin, sudah terlambat.

                Yang membuat perjalanan ini sedikit menyenangkan adalah mendapatkan teman seperjalanan.
Ada lima motor yang kini melaju di depanku. Mengular. Seperti saling paham, dari mereka tak ada yang saling salip. Semua berada di posisi semula. Berjalan beriringan satu-satu. Teratur. Motor paling depan adalah pemimpinnya. Pengatur laju juga petunjuk arah.

Tak jauh dari perbatasan di Brebes, mereka berhenti beristirahat. Seorang yang lain tetap melaju. Sebab perjalanan ini barulah satu jam, aku memutuskan tetap melaju meninggalkan rombongan tadi. Mereka memandangi kami sebagai isyarat salam perpisahan.

Nyatanya, H-7 masihlah sangat sepi. Di belakang lajuku hanya ada sebuah sepeda motor yang mengikutiku. Di depan, tak nampak sepeda motor yang melakukan perjalanan mudik. Untuk menyingkat waktu, kutambah laju dan meninggalkan seorang yang mengikutiku tadi.

Kembali dingin kurasakan. Jika begini aku hanya bisa memaki diri sendiri. Menyalahkan kecerdasan yang terlambat datang. Berapa aku melakukan perjalanan jauh ini? Hampir lima belas kali—dan dulu setiap dua bulan pastilah pulang. Bukankah setiap mudik pasti kedinginan? Apalagi waktu merembet semakin puncak. Pukul dua belas malam sesudahnya adalah masa kritis. Belum lagi hembusan angin laut yang bahkan jaket tebal pun mampu ditembusnya.

Laju kendaraan kini semakin melambat tertahan dingin. Sulit rasanya mengemudikan kendaraan dalam keadaan menggigil. Konsentrasi pastilah buyar. Pegangan setang pun semakin kaku. Berapa kendaraan motor mendahuluiku. Demi mengurangi kesakitan ini aku melaju di belakangnya.

Sampai di sebuah perempatan lampu merah di kota Tegal. Seorang pengemudi menyapa ramah ke arahku. Umurannya sekitar empat puluh tahunan. Sendiri, membawa perbekalan yang tak seberapa. Ia menanyakan tujuanku samakah dengannya, Semarang. Aku mengangguk meski nanti kami bisa saja berpisah di persimpangan Weleri, Kendal. Hal yang kusayangkan dari pengemudi tadi adalah satu. Ia tidak memakai sepatu, hanya sandal gunung tanpa kaos kaki. Terbayangkan, jika calana tipis saja begini gigilnya apalagi tanpa penutup sama sekali. Nampaknya, pengemudi ini baru sekali melakukan perjalanan jauh atau memang seperti aku—yang mengabaikan persiapan.

Perjalanan berikutnya kendaran mulai melambat, seperti kehabisan daya. Tentu bagi mereka bisa saja factor itu kelelahan karena melakukannya sedari siang tadi dari ibukota. Terpaksa aku meninggalkannya dan melaju, sedang pengemudi yang bertanya di lampu merah tadi masih mengikutiku.

Rupanya, tak hanya aku yang salah kostum. Beberapa kali di jalan, kutemui pengendara yang mengabaikan persiapan. Mereka memakai sweater tebal tetapi bawahan celana pendek. Semisal ia akan mendatangi mall atau konser saja. Padahal ini perjalanan jauh. Jika sudah selarut ini, perjalanan mereka tak ubahnya merambat bagai keong. Kaki-kaki diangkat dan disatukan. Kadang aku merasa kasihan. Sudah capek, dingin, tentulah punggung dan tangan mereka pegal sedemikian rupa.

Pengemudi di lampu merah terus mengikuti di belakangku. Kutambah laju seperti biasanya, mendekati ambang kecepatan maksimal meski dingin menggerus udara. Kadang, pengemudi itu tertinggal jauh. Bukan karena ia tak mampu mengejar, ini tersebab karena dingin yang membekukan kakinya hingga ia tak kuasa memacunya lebih kencang. Sesekali aku melambatkan laju, menunggunya. Namun, ketika sampai jalan mendekati terminal Pemalang, aku kehilangan jejaknya. Perjalanan kutempuh sendiri lagi.

Perjalanan panjang ini tentulah membosankan. Apalagi ketika melewati alas Roban. Kanan kiri gelap, berjejer ratusan jati yang rapat membungkus malam. Tak ada kehidupan perkampungan. Kadang mengharuskan aku untuk menghitung, berapa lama lagi akan tiba di tempat peristirahatan, di SPBU dekat perbatasan Batang-Kendal.

Setelah hampir satu jam menembus alas Roban, tibalah saatnya aku beristirahat di tempat ini. SPBU yang lapang, parkirannya luas, dan disediakan tempat peristirahatan untuk mereka yang melakukan perjalanan jauh. Beberapa tukang pijat tampak kelelahan dan tertidur, sedang penjaja makanan tak begitu antusias berkeliling.
Sebagaimana melintasi sebuah kota, terkadang menyelinap ingatan kenangan tentang seseorang. Aku mulai menjelajahi dunia maya dan mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Aku ingin mampir sejenak ke rumahnya, untuk janji kecil beberapa bulan silam.

Mata berat, saatnya istirahat.

***

Subuh, aku terbangun. Meski badan masihlah lemas karena hanya sekitar tiga jam tidur, kupaksa juga melanjutkan perjalanan usai sembahyang.

Kubuka pesan inbok di fb, tak ada balasan. Mungkin masih terlalu pagi. Jika jadi, perjalanan dari Weleri ke Wonosobo pun bisa dipastikan sekitar 2-3 jam, masih ada waktu.

Namanya, mbak Nessa. Aku mengenalnya lewat dunia maya sekitar setahun yang lalu saat sedang minat dan berburu lomba menulis di fb. Saat itu ia tengah berada di Singapura, bekerja sebagai BMI. Ia pernah mengabarkan kepulangannya sekitar Juli tahun ini. Mungkin ada beberapa hal yang menunda hingga bulan Agustus barulah tiba di tanah air. Sesuai janji kecilku dulu, aku ingin menemuinya di Wonosobo, kopi darat istilah kerennya.

Namun, sesampai Temanggung pun belum ada balasan. Aku khawatir ia sedang tidak ada di rumah jika acara kopdar dadakan ini. Perjalanan berlanjut ke Magelang.

Aku masih ingat, beberapa bulan lalu ketika melewati sebuah jalan di Muntilan, Magelang. Jalanan yang dipenuhi jutaan kubik pasir akibat letusan merapi kemarin lusanya. Bangunan kios ambruk tersapu lahar dingin, sedang yang masih berdiri, ruangannya dipenuhi pasir sempai sebatas internitnya. Seperti lautan, yang tersisa hanyalah pohon kelapa yang masih bertahan dari arusnya. Alat berat exvakator atau lidah jawa menyebutnya ‘bego’ dioperasikan untuk memindahkan pasir yang menutupi badan jalan. Batu sebesar kerbau, disisihkan di tepi jalan. Pemandangan yang menakjubkan sekaligus memprihatinkan. Puluhan orang berlomba mengangkut pasir untuk bahan bangunan atau dijual. Sedang beberapa pemuda-pemudi malam menjadikannya tempat rekreasi.

Jalan Magelang di Jogja. Entah kenapa, setiap melewati daerah tertentu, mampu memunculkan sosok-sosok yang bahkan aku tak mengenalnya langsung namun akrab. Begitu pula di kota Gudeg ini. Ingat kawan mayaku yang suka menulis. Ingat pula rekan kerjaku di perantauan. Seandainya suatu saat bisa sejenak mampir ke rumahnya.

Akhirnya, aku sampai di kampung sewaktu dhuha. Perjalanan yang tertempuh kurang lebih delapan jam lamanya ditambah masa istirahat. Sungguh melelahkan.

Tampaknya, catatan perjalanan ini belum selesai. Masih banyak cerita. Kopdar dengan mbak Nessa Kartika lusa harinya, lalu langsung menuju ke Cirebon. Esoknya mudik (lagi) ke Klaten. Dan seminggu kemudian berangkat ke Malang kopdaran dengan mbak Dew Faricha Hasan. Semoga aku bisa menuntaskan cerita ini. Sampai jumpa di catatan perjalanan ke dua.

*pondok delima, 1o1o2o11 o7:36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar