Apa kabar, kawan? Kita bertemu lagi dalam catatan perjalanan yang ke empat. Perjalanan mudik untuk kedua kalinya dengan jeda tiga hari. Antara Cirebon sampai Klaten. Mungkin kalian kecapekan membacanya, apalagi saya yang menjalaninya ya. Hehe.. oke, akan saya mulai ceritanya. Semoga terhibur.
***
Malam telah sepenuhnya merapat. Aku dan Ikah mampir sejenak di dekat daerah tol Kanci. Mengisi perut yang sedari subuh tadi kosong, usai berpuasa. Perjalanan dari sini masihlah sekitar satu jam lamanya dengan kecepatan sedang, namun karena faktor kelelahan yang menguasai kami. Aku bersemangat untuk meringkas menjadi setengahnya saja, setengah jam kurang lebih.
Jarak antara Kanci dengan Palimanan sekitar 35 km. Jika kalian pernah melewati jalan tol di Cirebon, itu akan menjadi pintu masuk dan keluarnya. Oya, kalian pasti tahu jalan tol tidak boleh dilalui kendaraan roda dua, tetap masih ada mereka yang tak mengetahuinya—dulu pun aku juga begitu, hampir saja masuk jalurnya—setiap mudik menjelang, maka polantas, tentara, juga anak-anak pramuka disiagakan di ujung tol Pegagan, Palimanan untuk mengantisipasi pengendara sepeda motor yang akan salah jalur masuk ke jalan tol.
Kupacu motor membelah angin. Tak ada percakapan antara kami. Terdiam. Ikah merapatkan tubuhnya, mendekap erat. Menyamankan keadaan. Sementara aku berkonsentrasi penuh pada jalanan. Siaga. Terlalu riskan sebenarnya memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Penghindaran yang tiba-tiba bisa berakibat fatal jika pengemudi tak bisa mengendalikan. Terlebih pengemudi tak menguasai medan, titik-titik rawan terjadinya kecelakaan.
Berbekal pengalaman, berpuluh-mungkin ratusan kali melintas jalan ini semenjak empat tahun lalu. Aku memutar gas penuh ketika melintasi jalanan pantura yang jauh dari perumahan penduduk. Jalanan yang cukup lenggang, kendaraaan yang melintas bisa dihitung dengan jari, sebaliknya dari arah berlawanan rombongan pemudik sudah mulai memenuhi badan jalan. Sungguh kontras dengan dua hari yang lalu.
Akhirnya, tiga puluh menit—pukul sepuluh malam--kami sampai di tempat tujuan. Kost yang berada di areal perpabrikan. Berdebu dan jauh dari pemukiman penduduk. Ikah mengistirahatkan tubuhnya, yang tadinya kelelahan kini memejamkan mata pun sulit. Berkali dicoba, tak bisa. Mungkin masih asing dan kurang nyaman dengan suasana kostku yang bising ini--deruman mesin pabrik setiap malam samar terdengar. Inilah kedua kalinya, ia menginap di kamarku ini setelah beberapa bulan yang lalu mampir sewaktu perjalanan jauh juga dari Bandung- Cirebon-Klaten.
Terbayang, perjalanan esok hari pastilah menghabiskan banyak energy. Melelahkan. Hanya semalam ini kami istirahat, besok pagi berangkat lagi menuju Klaten seusai aku melunaskan urusan di sini.
Pagi-pagi kami sudah terbangun. Kurang tidur. Ikah asyik meneruskan membaca buku semalam, sementar diriku sibuk di kamar mandi, mencuci baju. Jam sembilan kami berangkat. Pulang!
Apa yang kami saksikan di jalan rupanya menjadi hiburan tersendiri. Beraneka ragam pemudik silih berganti melintas. Ada seorang yang dengan sepeda tuanya—wow—mengayuh pedal dengan santai. Di bagian belakang tertulis dengan jelas alamat si bapak ini, Tegal. Ada juga yang mudik mengendarai vespa butut, tentu yang ini kalian sering melihatnya bukan. Namun yang sering kali mencolok di antara sekian banyak pemudik ialah mereka yang memberi identitas daerah asal dirinya-atau mungkin mereka sedang mencari teman seperjalanan. Kardus-kardus yang ditempatkan dibelakang motor, diikatkan dengan rafia yang dijepit dua bilah bambu atau kayu, acapkali dipasang tulisan besar yang bisa dibaca oleh pengemudi di belakangnya. Biasanya dengan embel-embel cah atau wong yang berarti bocah atau orang. Semisal, Cah Sragen, Wong Solo, Cah Jogja, dll. Aku hanya tersenyum, perlukah juga aku melakukan ini? Ah, lupakan saja. Aku tak ingin menirunya.
Cirebon macet, terutama di pasar Plered. Pinggiran jalan di penuhi dengan pedagang, sedang di sisinya abang becak ngetem menunggu rejeki. Tak mau kehilangan trayek, angkot pun seenaknya berhenti, menunggu penumpang yang tak pasti. Sesekali terlihat kenek bergegas membantu penumpang mengangkut barang belanjaan. Suasana yang panas ini semakin menambah gerah. Puluhan klakson berteriak meminta jalan. Bersabarlah. Macet, berarti agar semua kebagian jalan bukan?
Sengatan matahari seperti menguliti kulit. Membakar keringat. Perjalanan ini barulah dimulai. Namun wajah-wajah capai nan kelelahan tergambar jelas di orang-orang. Sebenarnya, suasana seperti ini sangatlah tak kondusif. Acapkali yang terjadi uring-uringan. Kemacetan yang panjang. Asap knalpot yang membungkam pernafasan. Juga bising yang memekakkan telinga. Belum lagi sesama pemudik yang saling mendahului, asal salip. Menambah daftar keruwetan perjalanan jauh ini. Syukurkah, di kota sedikit lega. Kendaraan bisa melaju, meski masih dengan kecepatan rata-rata.
Di timur kota, sudah tak terjadi kemacetan lagi. Padahal, setahun yang lalu, sebelum jembatan layang yang melintasi pasar Gebang belum jadi. Kemacetan panjang mengular terjadi di daerah ini. Penyebabnya pasti, seperti halnya keadaan pasar. Pedagang yang tumpah ruah di badan jalan, penyeberang yang memotong jalan, ditambah angkutan yang berhenti sembarangan. Jika kalian melintasi pasar ini, akan tercium aroma ikan—atau terasi—yang menusuk hidung. Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan pun dijajakan di sepanjang jalan. Bila kalian ingin mencari yang lebih murah, bisa masuk ke dalam melalui jalan sebelah kanan sungai. Sepanjang aliran sungai, kalian akan menjumpai perahu nelayan yang melabuh. Perahu-perahu tadi bergerak menggunakan motor tempel. Beragam warna dan nama, yang unik terkadang ada di antaranya memasang bendera partai. Kampanye? Entahlah.
Di muara, akan ditemui TPI (tempat pelelangan ikan). Tetapi aku tak tahu kapan diadakannya. Dari sini kalian bisa memandang hamparan laut yang luas, namun sayang, sepanjang tepian pantai ini hanyalah lumpur tiada berpasir. Tak ada yang berekreasi di sini, kecuali untuk urusan mencari lauk ikan atau ranjungan.
Pantai utara, lebih sering disebut pantura. Memang benar adanya. Jalur panjang di dekat tepian pantai. Bila kalian sampai di Tegal, saksikanlah pantai akan terlihat dari badan jalan. Warnanya yang kebiruan, ombaknya yang putih sedikit berbuih, juga angin yang melambaikan pepohonan kelapa yang menyisir sepanjang tepian. Indah.
Kami bergerak perlahan. Jalanan di Brebes dan Tegal macet total. Menyelip diantara kendaran besar. Menepi, menyusuri jalanan tanah berdebu untuk dapat melaju. Hampir semua pemudik melakukan hal yang sama.
Di daerah Pemalang, barulah keadaan jalan yang lengang. Rupanya, ada sedikit masalah. Tubuhku benar-benar drop. Dehidrasi. Medan pantura yang rendah dengan cuaca panas telah banyak menguras energy. Berbeda dengan jalur tengah yang teduh dan berdataran tinggi. Bibirnya Ikah bahkan telah mengering, tubuhnya tak kalah lesu. Oh, bagaimanakah ini, padahal kami sedang berpuasa. Menyaksikan sebagian pemudik yang sedang berbuka, betapa nikmatnya.
Pandangan sedikit kabur. Cengkraman kemudi tidaklah sekuat sebelumnya. Pikiran pun seperti berhalusinasi. Aku putuskan berhenti di SPBU Comal, Pemalang. Sejenak beristirahat setelah keluar dari kemacetan. Di sinilah terjadi pertarungan antara akal dan nafsu. Antara berpuasa dan berbuka. Menurut kalian, apa yang akan kulakukan?
Ini bukan kali pertama aku melakukan perjalanan ini. Tentu paham akan kondisi juga situasi seperti ini. Berkali aku menimang keputusan. Melihat Ikah yang kelemasan. Memandang toko yang menyajikan minuman dingin. Kembali menatap Ikah yang bertahan menahan dahaga. Melirik toko yang menjanjikan kesegaran. Aku putuskan!
Minum!
Ah, legaaaa…
Eit, kalian jangan protes. Ini tentu dengan pertimbangan. Ikah tetap bertahan dengan puasanya, biarlah aku ‘harus’ berbuka. Perjalanan ini tak seenteng yang terbayangkan seperti kemarin. Justru membahayakan mengemudikan kendaraan dalam keadaan kurang konsentrasi. Resiko kecelakaan lebih besar.
Kami melaju dengan semangat baru. Sebotol minuman dingin cukup membantu. Kecepatan yang tadinya melambat kini telah bergerak cepat. Melesat.
Terkadang, kami tertawa di jalan melihat pemandangan yang menggelikan. Bagaimana tidak? Bantal yang harusnya tempat sandaran kepala kini beralih rupa menjadi tempat duduk di atas jok. Rupanya, olok-olokan tadi berbalik ke arah kami beberapa jam lagi.
Tak ada jeda istirahat lagi, kami hanya mengisi bahan bakar di SPBU kemudian berangkat lagi. Menaiki perbukitan di daerah Kendal, Ikah meminta gantian mengemudi.
Jalanan yang menyenangkan. Berkelok-kelok, naik turun, sedikit tikungan tajam, menjadi hal yang menghibur. Setidaknya, kami bisa mengandaikan jalanan ini seperti sirkuit balap. Sejauh ini, barulah hasil mudik dari Wonosobo-Cirebon-Klaten baru terasa. Punggung kami terasa pegal. Berulang kali ditegakkan. Apalagi—maaf—pantat kami kepanasan seperti hilang karena kelamaan duduk. Maka, berkali-kali pula kami mengeluh. Membawa bantal dalam perjalanan mudik menjadi pertimbangan yang layak masuk daftar.
Sampai di Magelang, kami berbuka—ups, ralat—Ikah berbuka, karena aku hanya berpuasa setengah hari. Membeli roti bakar dan minuman dingin, lalu menikmatinya sembari bercerita, tertawa-tawa. Menertawakan bantal.
Setengah jam kemudian kami berangkat. Sekitar satu setengah jam kami sampai kampung halaman. Mengantar Ikah pulang ke rumah setelah menculiknya dua hari. Bukannya langsung istirahat, justru obrolan kami berlanjut satu jam lebih. Oh, tentu kalian tahu apa yang diobrolkan para bujang seperti kami. Tak ada yang lebih menarik daripada tema tentang per..ni..ka..han!
**
Hmm, sepertinya catatan perjalanan Cirebon-Klaten selesai di sini. Sebenarnya, ada satu bagian menarik dalam perjalanan ini yang saya sembunyikan karena tak layak diceritakan. Kejadian yang membuat kami kebingungan, tak menyangka, penasaran, juga menebak-nebak. Dan, saya ucapkan selamat berkunang-kunang..eh, selamat bersenang-senang bisa ikut berpetualang dalam perjalanan ini. Insyaallah kita berjumpa kembali dalam catatan selanjutnya; Klaten-Malang. Makasih. Salam pena!
*pondok delima, 181o2o11 o8:26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar