Jumat, 14 Oktober 2011

Catatan Perjalanan : Jalur Tengah

25 Aug 11, H-5
                Sepenuhnya kini aku dan Ikah sudah sampai pada tujuan, kopdar dengan mbak Nessa. Meski saat itu—boleh dikatakan dadakan—karena aku sama sekali tak mengabari dulu secara langsung melalui hape, hanya lewat pesan fb yang itu pun dibuka setelah kami sampai di sana. Beruntung, kami tak kesasar dan kesulitan mencari alamat.
                Obrolan mengalir hangat. Satu dua tiga berselang berbagi cerita. Tak jauh dari dunia buku; membaca dan menulis. Mbak Nessa ditemani suaminya, melimpahkan keramahannya.
                Agaknya sesuatu yang menyenangkan itu terasa berjalan singkat. Dua jam ternikmati sudah. Lepas, semua cerita. Sepertinya jalan yang kami tuju tadi terlampau jauh jika lewat Parakan. Padahal, menurut penjelasan suami mbak Nessa. Kami bisa saja memotong jalan sekitar Borobudur. Mengambil jurusan Purworejo. Artinya, Magelang menembus ke barat tak melewati gunung Sumbing. Memang, jalan itu alternative, kecil.
                Kukeluarkan peta, teman setia yang kubawa selagi melakukan perjalanan ke daerah baru. Kuperhatikan. Jariku menelusuri garis hitam di antara warna kuning-merah yang menunjukkan daerah berdataran tinggi pada peta. Tak ada, hanya jalur satu-satunya melalui Parakan. Ternyata, jalur alternative benar-benar tak tertunjuk. Suami mbak Nessa menerangkan dengan seksama. Mengenai jalur yang harus dilewati. Karena baru sekali ke daerah ini, tentu tak mudah bagi kami memahami. Pulang dari Wonosobo, mungkin akan mencoba melalui jalur alternative itu kalau saja…
                Sebuah pesan masuk, seorang rekan mengabarkan ‘sesuatu’ dari tempat kerja. Buru-buru aku mengkonfirmasikan langsung ke kantor. Pukul tiga sore, aku harus di sana, berkumpul bersama. Bagaimana mungkin, saat itu barulah pukul sebelas siang, perjalanan Wonosobo-Cirebon tidaklah singkat. Paling cepat tertempuh tujuh jam denganberkendara motor, itu pun tanpa jeda istirahat.
                Keadaan yang tidak memungkinkan ini membuat aku harus segera mengambil keputusan cepat. Aku meminta pertimbangan Ikah. Rencana awal yang hanya ke Wonosobo harus berubah. Menuju Cirebon, meski tanpa persiapan jelas.
                Sebenarnya, perkara ini sangatlah dilema bagiku. Jika kuputuskan pulang ke Klaten, maka malamnya aku harus melaju ke Cirebon. Tidak bisa tidak karena urusan ini penting. Berhitung, 3,5 jam ditambah 8 jam, itulah jarak yang harus kutempuh, sendiri. Namun, bila terus melaju ke sana. Paling tidak jika melewati pantura, sekitar tujuh jam lamanya. Berbeda jika lewat jalur tengah atau selatan. Bisa sampai sepuluh jam.
                Membujuk, kucoba meyakinkan Ikah bahwa aku butuh kepercayaannya. Aku butuh waktunya, tenaganya, juga penjagaannya untuk bisa meneruskan misi ini. Kupandang pada matanya, menembus ke dalam, menyentuh hatinya (lebay banget ya..hehe). Aku menawarkan pilihan untuk mengemudi sampai tempat tujuan. Ikah menimbang, sepertinya itu pilihan terbaik, ikut denganku setelah ada pemikiran ia mau pulang saja dengan naik bus.
                Sebelum berangkat lagi menuju Cirebon, mbak Nessa menahan sejenak langkah kami. Ingin memberiku oleh-oleh sebuah buku, tentu tidak di rumahnya saat itu, tetapi di Rumah Rumbia rumah ibunya.
                Sebentar menuruni jalanan berbatu yang curam, perempatan lurus, dan masuk gang, akhirnya kami sampai di tujuan. Bu Maria Bo Niok—ibunya mbak Nessa—mempersilahkan kami memasuki ruang tamu yang juga taman bacaan. Di sana banyak pengetahuan tersebar. Sebuah folder tentang perjalanan menulis Bu Maria dan mbak Nessa terangkum tersusun dalam kliping-kliping; baik itu dari koran, majalah, ataupun buku-buku. Perjalanan menulis yang butuh perjuangan panjang, tak kenal lelah.
                Ketika akan segera pamit, kami dihadapkan dua pilihan setelah sejenak bercerita kepada Bu Maria tentang perjalanan ini. Akankah kami melewati Parakan menuju pantura, ataukah ke selatan lewat jalur tengah menuju Banjarnegara. Sejujurnya aku bingung, jarak berbeda, medan juga tak sama, namun apapun keputusannya tak akan kami sesali. Ikah, ah dia memilih jalur Banjarnegara karena ingin menyaksikan pemandangannya. Bu Maria menyarankan lewat pantura karena lebih cepat.
                Seperti janjinya mbak Nessa, buku kumcer Perempuan Ingin Adzan karya ibunya pun aku kantongi. Makasih, mbak… :D
                Jalanan berbatu kembali kami daki. Medan yang cukup berat, sesekali ban depan motor sedikit terangkat hilang kendali dan miring menyeruduk tanah. Dasar, kami malahan tertawa. Menertawakan diri sendiri. Rupanya, kami belum mahir mendaki jalanan berbatu seperti ini. Tak jauh, jalanan beraspal sudah nampak. Marilah, kita memilih jalan. Bismillah. Banjarnegara, kami datang!
                Menyenangkan, jalan yang kami lalui teduh. Sepanjang jalan, pohon-pohon besar memayungi berderet seperti pagar. Jalanan menurun landai dengan beberapa bagian berkelok. Jarang dijumpai perkampungan. Udara sejuk menyamankan paru-paru. Perjalanan tengah hari ini sungguh mengasyikkan.
                Kami baru tahu jika di Banjarnegara ada arung jeram. Terpampang dalam sebuah plang. Sungai jernih mengalir di sebelah kanan jalan. Bebatuan bulat tersebar di sisinya. Berlekuk-lekuk, mungkin ini satu jalur yang dilalui olahraga ini. Kami hanya bisa menebaknya, karena saat itu memang tak langsung menyaksikannya.
                Tak lama, Ikah terbebani kantuk. Berkali-kali tubuhnya miring ke kiri, balik tegak, ambruk lagi ke kanan. Lehernya lunglai, kepala bersandar pada punggungku. Ia bercerita, semalam baru tidur jam satu, bangun jam tiga bersahur dan setelah subuh tidak tidur sampai keberangkatan. Aku tak keberatan, aku juga demikian kalau sedang ngantuk juga. Beristirahat sekarang tidaklah tepat sebab mengurul waktu.
Hampir empat jam lamanya, akhirnya sampai juga di Ajibarang setelah sebelumnya melewati Purbalingga dan Purwokerto. Kami beristirahat di sebuah SPBU. Sejenak melepas lelah dengan tidur-tiduran.
                Rupanya, Ikah tak tega melihatku kecapekan. Ia menggantikan posisi mengemudi,meski aku telah berjanji untuk menuntaskannya sampai Cirebon. Tak apalah, jawabnya. Bagi Ikah, jalur ke Bumiayu-Brebes ini barulah pertama kalinya. Menjadi catatan perjalanan yang seru. Namun bagiku terasa membosankan karena tiga kali ini melewatinya. Baiklah, nanti aku ceritakan medannya. Keadaan semakin meredup pertanda sore akan berganti petang.
                Memasuki Bumiayu, jalanan sudah menanjak. Daerah ini termasuk dataran tinggi. Udara menusuk kulit. Sinar matahari terhalang pepohonan dan tebing. Sering dijumpai tikungan tajam menurun dengan sisi kanan-kirinya jurang. Dari jauh, hamparan perbukitan yang terlihat. Andai bukan sore hari, tentu pemandangan ini sangatlah menakjubkan.
                Jalur ini juga dilalui kendaraan besar seperti bus juga truk. Terkadang, Ikah kesulitan untuk mendahului kendaraan-kendaraan tadi—terutama truk bermuatan—karena jalannya yang berliku dan dari arah berlawanan tidaklah terlihat adakah kendaraan. Jarak pandang menjadi terbatas. Satu petunjuk berada jelas di tengah aspal. Bila itu garis patah-patah, berarti aman untuk mendahului. Jika, itu garis memanjang, janganlah mencoba menyalip karena resikonya sangat besar. Pernahkah kalian perhatikan rambu-rambu ini? Eh, penting lho :)
                Matahari telah sepenuhnya tergelincir dari langit. Kami pun telah turun dari jalur perbukitan. Di daerah Brebes, jalanan lumayan hancur—maksudku, masih dibenahi hanya bisa dilalui satu sisi—bila ada kendaraan roda empat berpapasan, terpaksa salah satu berhenti mengalah memberikan ruang bagi kendaraan. Tidak bisa dibayangkan andai mendekati hari H. Macet mengular panjang merayap seperti yang kualami beberapa tahun silam.
                Aku mengerti apa yang tersirat dalam benak Ikah ketika melewati jalan ini. Seperti pada pertama kalinya aku melalui jalur ini, sempat bertanya-tanya. Dari Bumiayu ke arah Brebes, kalian hanya akan melihat pematang sawah di sebelah kanan dan sepanjang aliran sungai kecoklatan di sebelah kiri. Berpuluh kilo, hingga kalian bosan sendiri memandanginya. Hanya ada satu dua kampung ditemui, itu pun rentang jaraknya lumayan jauh.
                Isya telah berkumandang, kami masih melaju hingga menghentikan kendaraan di daerah Tanjung. Persimpangan pantura dan jalur selatan. Kurang lebih tiga jam perjalanan. Cirebon, dari sini paling tidak membutuhkan satu jam lagi. Catatan ini aku tutup sampai di sini. Besok, insyaallah akan diteruskan. Perjalanan kembali dari Cirebon ke Klaten. Mudik kedua kalinya setelah tiga hari yang lalu juga mudik melewati jalan yang sama. Tentu dengan cerita berbeda. Salam pena!

                *pondok delima, 141o2o11 o9:o8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar