Apa kabar, Kawan? Semoga kalian tidak bosan membaca catatan perjalanan saya yang terlalu panjang ini ya. Hehe.. setelah sampai di Malang, marilah kita lanjutkan kembali perjalanan ke pondok kupu-kupu di Wonorejo. Langsung saja ya. Selamat membaca!
**
Melelahkan, petang barulah tubuh ini bisa beristirahat. Tak sangka, perjalanan ke Malang ini menguras banyak energi. Udara dingin semakin menambah kekhawatiran. Mengusap kulit mencari hangat. Berkali aku bersin, hidung meler, sebelah mampet, dan sentrap-sentrup. Sedang mata rasanya pedas seperti terbakar. Untuk berjalan pun terasa lunglai, tulang bagai lepas dari sendinya. Namun, kupaksa untuk tetap tersenyum. Tak enak kepada Mas Sapee jika malahan akan merepotkan karena sakitku ini.
Dulu, bayanganku. Malang adalah sebuah tempat yang sangat dingin. Jauh terletak di dataran tinggi, hingga apel pun tumbuh subur di tempat ini. Memang benar, tapi hanya di daerah Batu, menurutku. Sedang, tempat yang lain tak jauh berbeda dengan Klaten, dataran sedang, tempatku tinggal. Airnya pun sama dinginnya, hingga sore itu aku dibuat menggigil selepas mandi di sana. Ah, mau bagaimana lagi. Tak apalah meski tubuh kurang fit, daripada bauuuuuu…
Lepas magrib, kami keluar. Silaturahim ke rumah tetangga sekitar. Mendengarkan perbincangan mereka yang kental dengan gaya khas Malang. Menyenangkan berada di tengah mereka. Hal baru. Suasana baru. Keluarga baru. Hingga keakraban mereka dengan banyolan yang membuat aku tergelak. Di Malang, memang benar. Lebih kasar dialek dan bahasanya daripada di kampungku, dialek Solo.
Malamnya, tubuhku tak kunjung fit, malah semakin menjadi, namun kukatakan kepada Mas Sapee, semuanya baik-baik saja. Tak beristirahat, justru aku bergadang. Menemani Mas Sapee bermain bilyard di rumah tetangga. Menguap, bosan, mengantuk, ya..aku cuma jadi penonton karena tak bisa memainkannya.
Tengah malam kami pulang, barulah aku bisa tidur. Malang benar nasibku di Malang ini. Baru pertama kalinya, sudah kesasar dan terkena flu lagi..hatchi…!!
Subuh terbangun. Merasakan udara pagi sedikit membuat lapang dada. Rasanya tubuh sudah mulai membaik meski ingus masih saja keluar. Mas Sapee mengajak sebentar berjalan ke depan untuk menyantap gorengan sembari menyeruput kopi.
Masih terlalu pagi, warung masih tutup. Kami kembali lagi.
Setiap pagi, Mas Sapee punya rutinitas khusus, yaitu ngruwati manuk (memandikan burung). Awalnya aku tertawa, tentu lucu juga mendengar burung perlu dimandikan setiap pagi, layaknya manusia. Mas Sapee menjelaskan, ini demi menjaga bulu-bulunya agar terawat. Oo, begitu. Wah, sama seperti kulit kita ya? Bahkan harga seekor burung di rumah Mas Sapee yang setiap pagi berisik minta ampun itu, yang sekarang sedang dimandikan, tak bisa kupercaya nominalnya. Laku sampai dua juta, kukira ratusan ribu. Burung anis, jenisnya. Ckckck.. Katanya, selain hobi, memelihara jenis burung ini tentu hasilnya lumayan jika bisa menjadikan kicaunya bagus.
Setengah jam berikutnya kami kembali ke warung, usai menonton burung mandi. Mas Sapee memesan dua gelas kopi susu. Kami menunggu sembari menyaksikan hamparan sawah yang usai dipanen. Seorang anak kecil muncul mendekati Mas Sapee, tampak akrab. Mendengar cara mereka berkomukasi membuat aku tersenyum geli dan menggeleng kepala. Mas Sapee, usianya yang hampir pertengahan kepala tiga, mampu mengakrabi anak seumuran sepuluh tahun. Ah, mana lagi tema pembicaraan di kampung sini tak ada yang lebih menarik dari burung-burung itu. Di warung, di rumah tetangga, di jalan kampung. Pantas saja, tak hanya orang tua, anak-anak hampir semuanya hoi memelihara binatang bersayap ini.
Di Malang, aku kembali menemukan hal yang unik. Kopi susu yang dihidangkan di atas tatakan itu sangatlah panas karena air yang dituangkan dari hasil jerangan yang baru mendidih. Tutup gelas kubuka sembari menunggunya menjadi hangat, tapi Mas Sapee malah menuangkannya di tatakan. Diseruputnya dengan santai. Lagi, ia kembali menuangnya. Kemudian kembali diseruputnya, hingga tinggal setengah gelas. Aku melongo. Wah, padahal selama setahun dulu ketika kami tinggal satu atap tak pernah sekalipun ia melakukan hal unik ini. Aku penasaran, menanyakan kenapa, tapi hanya dijawab dengan sebuah senyuman.
Seorang wanita setengah baya datang, melihat busana yang dikenakan sepertinya ia akan berangkat ke sawah. Ia kemudian memesan seperti yang Mas Sapee pesan. Kuperhatikan, setengah melirik, cara minum yang sama dengan Mas Sapee. Dan aku kembali dibuat penasaran. Kebiasaan itu haruslah beralasan bukan sekedar meniru tanpa tahu. Kembali kutanyakan, namun Mas Sapee kali ini tak menjawab, justru melempar kembali pertanyaan, “Di tempat kamu tak seperti ini, to?” Seakan aku harus mencari jawabnya sendiri.
Usai mandi, kami bersiap berangkat ke Wonorejo. Tapi, rupanya ada sedikit masalah. Aku lupa mengganti oli semenjak perjalanan Cirebon-Klaten-Wonosobo-Cirebon-Klaten-Malang. Telah lebih dari 3000 km perjalanan tertempuh. Ketika sampai dibengkel, apa yang aku khawatirkan terjadi. Olinya menghitam serupa air comberan. Bercampur serbuk putih larut di dalamnya, tak lain lagi itu bagian seker yang tergerus karena kurang pelumasan. Idealnya, 2000 km oli harus diganti. Untung, tak sampai turun mesin. Bisa gaswat! (dompetku bisa jebol nih..hehe)
Tak ingin kesasar untuk kedua kalinya, aku mengajak Mas Sapee andil dalam kopdar ini. Dari Bululawang, perjalanan ke pondok kupu-kupunya mbak Dew di Wonorejo tidaklah jauh. Setengah jam; melalui jalur ke arah Wajak, pasar Tumpang, pertigaan Wates, lalu belok kanan, sekitar lima menit sampai. Lewat SMSnya, kami diberitahu jika ada melihat rumah tingkat warna oranye, berhenti dan bertanya.
Tak kesulitan kami mencarinya. Petunjuk di atas sudahlah cukup. Apalagi ada Mas Sapee yang arek asli Malang. Pastilah mengerti tempat-tempat yang dimaksud.
Pemandangan alam di Malang sangatlah elok. Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengahnya ada kota (sesekali niru parto dalang OVJ..hehe). Ternyata, arah kami menuju kaki gunung Bromo yang terletak di timur kota Malang. Sepanjang perjalanan, aku bertanya ini itu kepada Mas Sapee. Serupa anak kecil yang bertanya kepada bapaknya. Cerewet banget diriku. Hingga sampailah topik tentang tanaman apel ini. Kiranya di sana nanti aku bisa melihat dan memetik buahnya. Ah, pasti jadi pengalaman yang menyenangkan. Namun faktanya berbeda. Tak ada, begitu jawaban singkat Mas Sapee. Tentu aku sudah tahu kalau Wonorejo itu serupa di Bululawang, dataran sedang.
Sesampai di rumah tingkat yang dimaksud, Mas Sapee turun dan menanyakan kepada ibu-ibu yang berada di sebelah kiri rumah itu. Menanyakan rumahnya mbak Dew. Dew siapa? Oya, Dewi Faricha nama lengkapnya. Yang mana to? Mungkin seperti halnya di kampungku. Tetangga-tetangga hanya mengetahui nama panggilan, nama lengkap justru asing di telinga. Mas Sapee melirik ke arahku, meminta penjelasan detail. Kukatakan mbak Dew mengejar di YPI Al Amin. Kutunjuk sekolahan itu sembari mencondongkan wajahku ke arahnya, bangunannya yang terlihat dari badan jalan.
Selang tak berapa lama, seorang gadis kecil muncul dari dalam rumah setelah dipanggil ibunya. Ia meminta ijin dirinya untuk mengantar kami. Tak jauh, (seingatku) hanya selisih dua rumah di belakangnya, kami akhirnya sampai di pondok kupu-kupu.
Kami disambut dengan baik oleh abahnya mbak Dew. Memperkenalkan diri kami, kawannya dari jauh; Bululawang dan Klaten. Obrolan mengalir. Aku menangkap bahasa krama yang masih asing di telinga, sedikit-sedikit diselipi bahasa Malang yang aku tak tahu. Entahlah, aku hanya sedikit memahami apa yang dibicarakan Mas Sapee dan abahnya mbak Dew. Apalagi dialek Bululawang dan Wonorejo nyatanya berbeda. Byuh (_ _”)
Dan kopdaran itu akhirnya…
Mbak Dew muncul dengan wajah ceria. Tak menyangka, kawan mayanya ini jauh-jauh datang juga setelah beberapa kali sempat tertunda. Ia berkali-kali mengatakan rasa tak percayanya (saking tak terbayangkan kali..hehe). Antutias, kegirangan, dan kelegaan yang luar biasa. Aku pun merasakan hal yang sama. Kami pun larut dalam cerita.
Tak seberapa lama, datanglah juga adiknya mbak Dew, Laili Hasqi. Ikut nimbrung bergabung dalam pertemuan kopi darat ini.
Sebenarnya, aku sangatlah malu bertamu ke rumah seorang perempuan. Apalagi perlunya hanya ingin bertemu di dunia nyata setelahnya hanya di dunia maya. Namun, setidaknya pertemuan yang singkat ini bisa menambah keakraban kami, keluarga pondok (keluarga maya) yang berjumlah empat orang dari daerah berbeda.
Sepanjang pertemuan, aku lebih banyak diam. Menyimak apa yang mbak Dew ceritakan. Sesekali menanggapi dengan senyuman atau beberapa patah kata saja. Ah, seperti aku merasa demam panggung, terlalu canggung. Lidahku terlalu kaku untuk mengucap. Sifat pendiamku mulai mendominasi. Malahan Mas Sapee yang menemaniku, banyak mengobrol mewakiliku.
Mbak Dew tak banyak bercerita tentang dirinya. Ia lebih tertarik dengan perjalananku yang sering kesasar. Sekali ia mempersilahkan kami mengicipi cemilan yang terhidang. Dasar sifatku yang pemalu, mbak Dew sampai capek sendiri akhirnya. Cemilan itu sedikit tersentuh, itupun karena Mas Sapee yang memulainya.
Sebelumnya, aku dan Mas Sapee pun disuguhi sajian mantap. Dua mangkuk bakso. Eh, benar itu bakso Malang ya, Mbak? :) Sebenarnya, sebelum berangkat kami telah sarapan. Sempat menolaknya ketika mbak Dew menawari, namun karena ibunya yang meminta. Kami pun menikmati dengan lahap.
Aku teringat sebuah pernyataan, benarlah jika kakak-beradik ini mirip. Tentu saja, namun Mas Sapee berpandangan lain. Ia mengungkapkan perbedaannya. Ini itu, banyak juga sebenarnya. Hehe..
Kami saling bertukar cerita. Pengalaman mengikuti ajang lomba menulis, buku antologi, hingga komunitas maya yang kami geluti. Pengharapan-pengharapan ke depan. Dan tak terasa detik terlalu cepat berdetak. Dua jam sudah kami lewatkan dengan obrolan berkesan.
Sebelum aku dan Mas Sapee berpamitan, mbak Dew memberikanku sebuah kejutan. Diulurkannya sebuah kotak Pandora (bukan ding), sebuah kotak kecil seukuran segenggaman bersampul coklat dengan corak batik. Isinya? Mbak Dew melarangku membukanya sebelum sampai di rumah Mas Sapee. Mungkin berbatang-batang coklat, tapi kok ringan ya. Sebuah buku? Terlalu kecil wadahnya. Lalu? Sebenarnya, isi dari kotak itu adalah permintaanku sebagai oleh-oleh bila aku berkunjung ke pondok kupu-kupu. Mbak Dew telah menepati janjinya :)
Perjalanan pulang serasa lebih cepat dibanding berangkat. Kami pulang dengan hati yang lapang. Kelegaan yang mendalam. Dua misiku di Malang sudah tuntas. Silaturahim dengan Mas Sapee dan kopdar dengan mbak Dew. Entah, kapan lagi aku bisa ke sini. Nampaknya aku mulai merindukan Malang.
Sesampai di rumah, kubuka bingkisan itu bersama Mas Sapee. Tujuh miniatur kupu-kupu yang cantik. Sayapnya terbuat dari bulu angsa yang diberi warna serupa pelangi, menawan. Tubuhnya lunak dari rautan kayu, ringan. Sedang, matanya dari manik yang berkilau dan sepasang antena yang lentur. Tujuh helai kawat tipis menjadi penyangganya, dan bilah bambu sebagai pegangannya. Oleh-oleh yang begitu cantik. Kotak itu kututup kembali dan kusimpan rapat :)
Inginnya, seusai kopdar dari Wonorejo langsung kembali pulang ke Klaten. Namun, kondisi kesehatanku tak kunjung membaik. Perjalanan pulang harus ditunda keesokan harinya.
Malamnya, aku dan Mas Sapee berkeliling ke rumah tetangga. Dari sanalah aku mendapat jawabannya. Ketika melintas sebuah warung, akhirnya Mas Sapee menjelaskan, kenapa setiap orang di kampung ini meminum kopi dengan cara yang sama. “Karena airnya terlalu panas, bila kita bertamu dan disuguhi minuman demikian, maka tak harus menunggu hingga hangat. Tuang saja di tatakan. Seruputlah dan rasakan sensasinya yang begitu nikmat.” Eh, benar juga setelah aku mencobanya, ada rasa yang berbeda. Tambah nikmat :D
**
Sepertinya catatan perjalanan ke pondok kupu-kupu sampai di sini dulu. Maaf, bila tak terlalu mendetail. Semoga kalian tak bosan membacanya hingga akhir. Masih ada satu catatan lagi, perjalanan dari Malang ke Klaten via Mojokerto-Jombang. Insyaallah saya bisa mengisahkannya. Terima kasih, Kawan. Salam pena!
-aw-
*pondok delima, 251o2o11 17:55
Tidak ada komentar:
Posting Komentar