Pernahkan kalian menemukan uang yang jatuh di jalan? Apa yang akan kalian lakukan? Tak besar sih, paling beberapa lembar ribuan saja. Namun, bagi kami bertiga, tiga lembar seribuan akan menjadi kisah yang tak mudah untuk dilupakan.
Semester lima kelas tiga SMA, akhir 2004. Seperti biasanya, sepulang sekolah kami akan menelusuri jalan itu. Jalan kampung selebar badan kendaraan roda empat, beraspal, dan menyisir sebelah utara perkampungan itu. Jalan kecil yang jarang dilalui siswa ketika pulang sekolah.
Tak ada yang istimewa setiap lewat jalan itu. Hanya sebuah bangunan tua dengan benteng setinggi orang dewasa yang berlumut dan lapuk dimakan usia. Sedang di kanan kirinya kebun lebat yang tak dirawat. Ada semacam – dalam pikiran kami—yang memberikan image bahwa di tempat itu ada penunggunya. Berhantu!
Ah, mungkin karena pikiran buruk dari kami itulah nanti akan terjadi kisah konyol di sekitar jalan itu.
Hari yang entah ke berapa, kami bersepeda melintasi jalan itu. Sebuah kertas tergeletak di tengah jalan. Melambai-lambai tertiup angin. Benar dugaan kami, ketika memunggutnya ternyata selembar seribu. Entah, pikiran apa yang merasuki, kami bertiga mencarinya lagi. Di rerumputan yang tumbuh sepanjang jalan. Dua..tiga..kebetulan sekali, tiga ribu masing-masing seribu.
Lembaran tadi masih baru, wangi. Kami saling berpandangan. Melihat sekitar. Rumah tua, tembok lapuk, dan kebun lebat. Jangan-jangan ini , jebakan!
Terlanjur, kami menemukannya. Sungguh sayang bila membuangnya kembali, apalagi seribu rupiah bisa untuk membeli dua mangkuk soto di sekolah. Bagaimana ini? Aha, seseorang punya ide!
Sebenarnya, memalukan sekali menuliskan kisah selanjutnya ini. Tanpa pikir panjang, Gei—sebut saja demikian satu kawanku ini—berlari ke arah pohon yang agak rindang. Meletakkan selembar seribuan tadi lalu –maaf- mengencinginya tanpa rasa bersalah. Boi—sebut saja begitu temanku yang satunya—entah apa yang dipikirkannya, melegalkan perbuatan Gei. Tak membuang waktu, ia pun menirukan kelakuan Gei—ikut pula –maaf- mengencingi selembar lagi tak jauh dari Gei berdiri. Aku bengong. Tinggal selembar lagi di tanganku. Haruskah aku ikut melakukannya?
Sebelum kewarasanku hilang, menirukan aksi kedua kawan sekampungku itu. Tiba-tiba dari tikungan tak jauh dari kami berhenti, serombongan siswi terlihat kalem mengayuh sepedanya. Rusuh. Mereka berdua menyegerakan hajatnya. Aku panik berteriak. Menyuruh mereka berdua segera bergegas ketika rombongan siswi semakin mendekat.
Gei telah menyelesaikan hajatnya lebih dulu. Ia memetik selembar daun lalu mengambil lembar seribuan—yang kini basah dan bau pesing—dengan menjepitnya. Buru-buru ia naik ke sepeda bersiap mengayuh bersamaku. Justru Boi yang semakin kalap. Takut kami berdua meninggalkannya, tak sempat ia berpikiran panjang lagi. Ia menutup resletingnya dan tanpa hitung-hitungan mengambil selembar seribuan tadi dengan dua ujung jarinya. Hiii… Bergegas mengayuh sepeda di belakang kami.
Sepanjang perjalanan kami tertawa. Oh, rupanya dua lembar bau pesing tadi, sekarang diangin-anginkan di setang sepeda.
Siapa menyangka, lembaran yang kini mulai mengeras karena mengering ini punya catatan sial. Dari baunya yang wangi kini tak lebih bau dari kamar mandi. Siapa pula yang akan tahu bisa esok harinya bisa berubah menjadi dua mangkuk soto?
Eh, emang benarkah guna-guna dalam uang tadi akan menghilang terkena air seni? Dasar Gei!
Meskipun aku tak percaya bahwa uang-uang itu diberi guna-guna, tapi perasaanku masih kacau dan ragu. Sampai di kampung pun aku tak berani menyimpannya, apalagi menjajakannya. Oleh usulan Gei—uang tadi harus dipendam sehari. Jika hilang, berarti benar ada guna-gunanya. Jika tetap ada, berarti aman untuk dijajakan. Aha, lebih masuk akal daripada yang mereka berdua perbuat tadi. Akhirnya, seribuan yang terakhir ditimpa batubata di pekarangan Gei.
Keesokan harinya Gei melapor. Aman. Uang tersebut masih utuh.
Lemas. Aku yang tak berharap banyak—dan masih takut-takut-- menyilahkan Gei mengambilnya saja. Dan dua mangkok sotoku pun musnah sudah.
*pondok delima, o81o2o11 19:19
:o
BalasHapusckckckckckck....sy jd ikut bengong
ado-ado sajo :D
hihi, begitulah masa sekolah saya yang sedikit 'memalukan' dan konyol
BalasHapus