Senin, 13 Juni 2011

Ruang Rindu

                …menghirup rindu yang sesakkan dada..


                Tiba-tiba rasa itu tertawa, lalu menyebar ke dada. Perlahan menyerang sendi-sendi, lalu menghujani jalinan memori. Menguasai layar dengan bayang yang samar. Kacau. Hatiku kini diliputi galau.

Satu persatu slide ingatan itu berputar bagai potongan film dokumentar. Tawa, canda, kesal, acuh; semua tergambar jelas. Saling berganti. Silih mengisi.

                Kuhirup nafas dalam-dalam. Sekali lagi. Sungguh, rasa itu memang menyesakkan dada. Rasanya menyenangkan tetapi menyiksa. Hangat tetapi menggelisahkan. Entah, aku tak bisa menahannya jauh lebih lama. Membiarkannya saja, terus merasuk ke dada, hingga semakin sesak.

                ..terasa hangat, oh di dalam hati..


                Sekejap, rasa itu menghadirkan sebentuk bilur senyuman. Menyuburkan rasa, menumbuhkan bunga, lalu bermekaran mahkota di ujungnya, dan di atasnya, ada langit yang melukis lengkung pelangi. Sungguh berseri.

                ..kupegang erat dan kuhalangi waktu. Tak urung jua, kulihatnya pergi..

                Sesaat, rasa itu berubah selaksa pagi, menjelang siang. Ketika embun di lekukan bunga telah hilang terangkat oleh pendar mentari. Hangat yang kemudian menyengat. Kandas. Menggelisahkan. Sungguh meresahkan.

                ..kau datang dan pergi, oh begitu saja. Semua kuterima, apa adanya..


                Aku tak bisa menahannya di satu sisi. Aku tak kuasa melawannya di satu hati. Karena ia sebuah anugrah. Kata orang, rindu itu siksaan yang menyenangkan. Benarkah demikian? Aku hanya terpaku ditikami ujung rindu yang sembilu.

                ..mata terpejam dan hati menggumam. Di ruang rindu, kita bertemu..




                *diadaptasi dari Ruang Rindu-nya Letto

-Pondok Delima-, Juni 2011

1 komentar:

  1. mas aw, ayoooo nulis di blog lagi... pengen makan delimaa lagiii niih... :)

    BalasHapus