Sabtu, 04 Juni 2011

Review : Katastrofa Cinta.


                “Cempaka!”
                Ia tak menoleh. Perempuan ayu keturunan cina itu tetap asyik dengan kecrek di tangannya. Mengamen di perempatan lampu merah bersama Jepri- anak kecil usia belasan yang kukenal ketika menemani Daud mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak yang putus sekolah.
                “Cempakaaa..!”
                Ia tetap tak menoleh.
Tenggorokanku sudah terlampau serak untuk berteriak lagi, akibat hawa panas dalam bus, siang ini. Rasanya tak sabaran aku ingin bertemu dengan Cempaka, setelah setahun ini ia menghilang.
“Cempakaaaa…!!” Aku hanya bisa berteriak dalam hati.
                Aku melangkah turun. Baru beberapa langkah berjalan, lampu berganti menyala hijau. Sosok perempuan muda dan anak belasan tahun tadi hilang tersamar lalu lalang kendaraan dan kepulan asap. Sial! Aku hanya bisa memaki sembari menerobos kendaraan yang mulai merayap.
                Aku berlari menuju tempat di mana tadi mereka kulihat. Jalanan di kota ini ramai hingga aku tak mudah menemukan sosok keduanya di sela orang-orang yang berjalan lalu lalang. Sesekali kuseka keringat yang mengucur di dahiku. Kemejaku, sengaja kutanggalkan kancingnya agar bisa diangin-anginkan. Telapak tangan, kuangkat di atas dahi untuk menghalau silau sinar matahari. Lamat-lamat kulihat sosok mereka berbelok ke kanan, ke sebuah gang, mungkin.
                Sengaja aku sedikit berlari agar tak kehilangan jejaknya lagi. Tetapi, ketika sampai di ujung gang tadi, mataku terpana. Apakah selama ini Cempaka tinggal di sini?
                Aku berjalan pelan sambil melirik kanan-kiri. Berharap menemukan Cempaka dan Jepri sedang rehat di salah satu bangunan.
                Ah, sebenarnya itu tidak bisa dikatakan bangunan. Lihat saja, atapnya rata-rata terbuat dari seng. Itu pun banyak yang berlubang, hingga dapat kupastikan, sinar matahari dan cucuran hujan mampu menebus ke dalam. Dindingnya pun terbuat dari kardus yang dilapisi plastik. Sekedar menahan tempias air hujan dan tamparan angin. Bahkan tanah yang mereka dirikan bangunan itu adalah milik pemerintah! Suatu hari, mereka mau tak mau, bisa kena gusur.
                Setelah setengah jam aku berjalan mengelilingi pemukiman kumuh ini. Hampir saja aku menyerah dan meneruskan perjalanan lagi ke Tirtonadi kalau saja tak kulihat sosok itu.
                Kukembangkan senyum. Segera aku berlari menuju sebuah gubuk (sebut saja itu gubuk daripada bangunan). Pintunya tertutup, tetapi dari celahnya aku bisa menyaksikan apa yang terjadi di dalam. Ada tiga sosok yang tengah berbincang. Cempaka, Jepri, dan .. siapa sosok perempuan renta itu. Ingatanku kuputar kembali, tapi tak satu pun sosok itu sekilas muncul. Kuberanikan mengetuk pintu.
                “Assalamu’alaykum.”
                “Wa’alaykum salam,” sahut seseorang dari dalam.
                Kudapati Jepri yang membuka pintu. Wajahnya yang gelap, terlihat lelah tetapi tetap bersemangat.
                “Oh, Mas Aw. Hmm, mau mencari siapa, Mas?”
                “Mbak Cantik ada?” kataku setengah berbisik. Tentu tadi aku menguping dari pembicaraan mereka, bahwa yang disebut Mbak Cantik itu tak lain adalah Cempaka.
                “Oya, silakan masuk.”
                Beberapa langkah aku masuk, Cempaka menoleh dan tiba-tiba saja dia berteriak kalut.
                “Pergi kau iblis. Pergi..!! Kau pembunuh. Kaulah yang menyebabkan semua ini.”
                “Cempaka, aku Aw! Bukan lelaki itu!”
                “Tidak! Kaulah iblis yang membuat aku kehilangan Ayah dan Ibuku. Kaulah yang menghancurkan masa depanku! Pergiii…!!!”
                Cempaka menjambak rambutnya. Matanya terpejam seolah menahan kesakitan yang luar biasa karena bayangan masa lalunya hadir lalu menerkam lukanya. Perempuan renta di sampingnya segera memeluknya. Namun, tak lama kemudian tubuh Cempaka terkulai. Pingsan.
                ***
                Sejam lalu aku telah membawa Cempaka ke rumah sakit. Keadaannya perlahan membaik. Tapi aku masih penasaran dengan perempuan renta yang telah menolong Cempaka selama ini. Kudatangi lagi gubuknya di pemukiman kumuh itu.
                Ia membuka pintu, namun ketika mempersilakanku untuk duduk. Kulihat langkahnya agak terseret. Baru kuketahui setelahnya, bahwa tubuhnya sebenarnya telah mati separo. Wajahnya rusak, seperti tersayat sesuatu,sedang beberapa bagian tubuhnya tidak dapat difungsikan lagi. Ia bercerita. Ia lebih suka menyebut dirinya dengan Perempuan Setengah Kayu. Tetapi tetangga sekitarnya lebih sering memanggilnya dengan Mbah Murong, karena ia dulu berasal dari dusun Murong.
                Sebenarnya, Mbah Murong adalah sosok yang jelita, setidaknya sebelum kecelakaan itu- yang mengubah fisik juga jalan hidupnya. Siapa sangka, masa lalunya begitu kelam.
                Aku mendengus. Cerita Mbah Murong benar menyedihkan. Aku pun bergidik membayangkan masa lalu itu, terlalu tragis.
                Mbah Murong ingin menangis, tetapi tak bisa karena kelenjar air matanya telah rusak. Kemudian ia berdiri, tertatih menyeret kakinya yang mati serupa kayu. Perempuan renta itu kemudian mengambil sebuah buku yang sampulnya berdebu di atas meja tak jauh dari tempat duduknya. Diulurkannya kepadaku.
                “Apa ini, Mbah. Katastrofa Cinta karya Afifah Afra?”
                “Ya. Kalau kau ingin tahu perjalanan hidupku, juga Cempaka. Bacalah buku ini.”
                Aku terdiam. Kutatap sampulnya berwarna merah menyala. Seraut wajah perempuan dan bangunan yang terbakar. Lalu satu persatu kubalik lembaran buku tadi. Plotnya tidak biasa. Melompat-lompat dari jaman sebelum kemerdekaan ke jaman reformasi. Begitu pula sebaliknya.
                “Mbah, bolehkan ini kubawa pulang?”
                Ia mengangguk juga tersenyum. Namun senyumnya mirip serigai. Aku pun tak berani berlama-lama menatapnya. Aku pun pamit. Entah kenapa setelah kubuka pintu gubuk tadi terlihat cahaya yang sangat menyilaukan mata.
                Waaaa… rupanya aku bangun kesiangan. Sudah jam setengah delapan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar