Rabu, 08 Juni 2011

Catatan Ringan : Mata Belati


Pagi tadi mata belati itu kembali menguasai mataku. Tepat ketika aku tengah berbincang dengan seseorang yang baru kukenal. Tak lama memang, tetapi cukup menusuk dan melumpuhkan jiwanya. Ah, ia jadi bercucuran keringat meski hari masih pagi. Padahal kami berada di ruangan yang berkipas angin. Duduknya pun terlihat gusar. Ia hanya sekali dua kali memandang wajahku, hanya sekelebat saja berani beradu mata denganku. Bicaranya pun terlihat mengendur. Ya, sejak mata belati itu muncul. Ia pun terlihat lemah kala bicaranya kupotong di tengah jalan. Saat itu aku tahu, mata belatiku telah menancap deras di jiwanya dan melumpuhkannya.

Awalnya kami hanya berbincang, tetapi beberapa menit kemudian lebih menjurus ke perdebatan. Ia merasa pendapatnya benar, begitu juga denganku. Pendapat kami sama kuatnya. Tentu itu menurut kami masing-masing. Karena bisa jadi perdebatan itu tiada ujung, maka aku pun membiarkan mata belati itu muncul. Mengarah ke matanya, lalu menikam jiwanya.

Beruntung, seorang kawan mencairkan suasana. Ia menjadi penengah dan menghilangkan mata belati itu.

***

Desember 2010

Suatu pagi, aku mendapati beberapa rupiah uang titipan dari seseorang raib dari kamarku, setelah malamnya kutinggalkan dan menginap di tempat saudara. Inilah kehilangan untuk kedua kalinya selama sebulan itu. Tentu, siapa yang mengambil masih samar karena tak ada bukti kuat.

Menurut cerita dari rekan dekat, seseorang yang telah mengambil uang itu tak lain adalah rekan kerja sendiri. Ia menjadi domba kala berkumpul dengan kami, dan muncul taringnya bak serigala ketika mendapati kesempatan untuk memangsa. Musuh dalam selimut!

Aku pun meminta seseorang untuk bertindak sebagai penyelidik. Aku mengetahui, ia mempunyai kemampuan untuk memunculkan mata belati itu.
Tahukah, ketika mata belati itu dipasang dan memandang ketika berbincang. Lawan berbincang yang tak lain adalah rekan yang dicurigai itu, bicaranya jadi mencercau tak jelas. Bahkan ia mengalihkan perhatian ketika pertanyaan yang mengenai uang hilang itu dikemukakan. Ia pun tak berani memandang tegak menatap wajah, apalagi mata.

Kami tahu, untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak cukup dengan memandang matanya. Bila ia balik menatap, lalu berbicara tanpa melepas pandangan matanya, berarti kemungkinan besar ia jujur. Begitu juga sebaliknya, orang yang berbohong tidak berani menatap mata lawan bicaranya. Tentu, ini tidak berlaku bila orang tadi bisa menguasai emosinya.

***

Januari 2009

Awal tahun 2009 adalah hari yang muram bagiku. Pagi itu di kantor, Bos marah besar. Segalanya kesalahan dan ketidakpecusan kerja ditumpahkan kepadaku, hingga aku tak bisa berkutik sama sekali. Aku hanya bisa mendengar semua amarahnya, tak mampu menyahut kecuali dengan beberapa kata saja, ‘ya, mengerti, atau baik.’

Mulanya aku hanya menunduk, ibarat kucing yang takut dipukul tuannya. Tetapi, lama kelamaan aku berpikir tidak bisa seperti ini. Hampir seperempat jam amarah itu belum reda. Sesekali kudongakkan wajah, lalu kuberanikan menatap wajahnya, lalu matanya. Ya, mata belati itu muncul di mataku. Menguasai jiwaku. Amarahnya, di mata belatiku seketika itu terlihat semakin mengecil.

Aku tahu, mata belati tadi menyimpan sesuatu kekuatan yang membuat Bos seperti mengerti di balik tatapan mata belati itu.

***

April 2009

Kata orang, bila kamu menempati daerah baru, kamu harus tegas. Jangan terlalu lunak yang membuat kamu bisa disepelekannya!

Ia menggembor-gemborkan tentang dirinya, kenalannya, dsb. Sebagai pendatang, tentu aku dipandangnya sebelah mata. Sedang aku, tak ambil peduli dengan itu semua. Aku tetap menghormatinya sebagai seseorang yang sudah lama berdiam di tempat ini. Bagiku, selama ia tak ‘mengganggu’, itu tak menjadi masalah.

Beberapa saat setelahnya, aku menjumpainya lagi. Ia mengatakan sesuatu dengan menyebut ‘hak’nya. Meminta sesuatu secara halus kepadaku. Aku menolak disertai beberapa argument yang menjelaskan bahwa itu bukan termasuk ‘hak’nya. Kami pun berdebat. Seru. Lalu mata belati itu kembali muncul. Menembus matanya. Tak lama kemudian, ia undur diri tanpa memperolah ‘hak’nya.

Setelah perdebatan itu, kami bertemu lagi. Sikapnya lain dari sebelumnya. Ia nampak segan. Bicaranya menjadi lembut dan menunjukkan rasa hormat.

***

Ah, aku lebih suka menyebutnya dengan kiasan ‘mata belati’. Menatap tajam mata lawan bicara, tanpa melepaskannya sedetik pun sebelum ia mengalihkan pandangannya. Biasanya aku menggunakannya ketika berdebat, dimarahi, atau untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak. Tentu semua berlandasan, jika aku berpijak kebenaran.

Ketika mata belati itu muncul, seluruh emosiku hilang. Aku menjadi pribadi yang kaku, tegas, kuat, dan serius. Wajahku tanpa ekpresi. Tak bisa tersenyum, bercanda, apalagi tertawa. Bicaraku pun lebih agresif.

Dengan mata belati itu aku pun tahu, seberapa kekuatan mental seseorang.

1 komentar:

  1. like this, mata belati. menggambarkan ketegasan tanpa berkata, menguucapkan tanpa suara.

    BalasHapus