Rabu, 12 Oktober 2011

Catatan Perjalanan 2 : Wonosobo


23 Aug 11, H-5
                Beberapa bulan silam, aku pernah berjanji untuk silaturahim ke rumahnya mbak Dew di Malang. Liburan lebaran ini tampaknya waktu yang paling tepat karena libur lama selama dua minggu penuh. Sesampai rumah selepas perjalanan mudik dari Cirebon, segera kuhubungi seorang tetangga yang juga seorang kawan sekampung. Kuajak dia menemaniku dalam misi ini—bersepeda motor ke Malang. Namun, malangnya ketika aku meminta ijin Ibu. Beliau tak merestui, menolaknya tegas. Bilang aku masih capeklah, jauhlah, dan aku beringsut mundur tanpa mengutarakan alasan apapun. Hanya minta jeda beberapa hari lagi, semoga diijinkannya.
                Kebiasaanku ketika mudik dari Cirebon adalah jarang memberitahukan kedatanganku ke kampung. Yang kupamiti hanyalah seorang adik yang tinggal di sana. Kedatanganku yang tiba-tiba ini tentu menjadi sesuatu yang mengagetkan, tapi karena keseringan, ortu pun maklum adanya. Tak banyak menanyakan kenapa, seperti saat-saat pertama kalinya.
Sengaja, memang aku tak mau memberitahukan perjalanan ini tersebab tak ingin ortu khawatir juga berharap-harap. Ketika aku berkunjung ke tetangga—seperti biasanya ketika kupulang—ada yang bertanya, “Di rumah Ibumu masak apa? Apa tidak masak special untuk anaknya yang pulang? Emang, nggak ngasih tau kalo mau datang ya?” Cukuplah, sebuah anggukanku menjawab semuanya. Nah, begitulah adanya. Terkecuali kalau aku sedang di rumah, pergi main ke rumah teman yang dekat pun sering ijin. Kemanapun kuharuskan pamitan kepada Ibu, apalagi akan pergi perjalanan jauh.
                Akhirnya, aku pun terpaksa menundanya beberapa hari lagi. Berhubung liburan barulah dimulai, kualihkan rencana ini ke Wonosobo, kopdar ke rumahnya mbak Nessa. Kuhubungi lagi Ikah (dia lelaki, biar nggak salah paham mengenai namanya, red)mengajaknya ke sana. Ia menyetujui, akan berangkat jam berapa, tanyanya. Sehabis sahur, kataku. Nanggung, lepas subuh saja, balasnya. Baiklah.
                Lepas subuh, ternyata udara perkampungan masih terasa dingin. Aku enggan beranjak mandi—apalah itu tak terpikirkan Ikah menahan gigilnya, memaksakan diri mandi dan menungguku di rumahnya—sementara yang ditunggu malah masih asyik meringkuk. Ahai, sungguh terlalu… Beruntung, Ikah adalah kawan yang baik yang tak suka ngambeg ^^
                Setengah tujuh, kutelepon. Ia bertanya, jadi tidak ke sana. Oya, aku belum mandi, demikian jawabku masih dengan nada lemas. Seperempat jam kemudian sampailah aku di rumahnya. Ia sedang sibuk memperbaiki bangku panjang. Memaku kaki-kakinya yang reyot. Tunggu, sebentar lagi ya. Setengah delapan, akhirnya kami berangkat.
                Sejujurnya, aku tak pernah ke Wonosobo sekalipun. Begitu pula dengan Ikah. Berbekal peta mudik kepunyaan adik, kami berangkat melalui Parakan—sebuah jalan penghubung Temanggung-Wonosobo. Jalanan saat itu tak terlalu ramai, namun di beberapa titik perkotaan dan pasar ada kemacetan. Dari Klaten sampai Parakan kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan berkendara motor.
                Untuk menuju kota Wonosobo haruslah menaiki jalan diantara dua gunung; Sindoro di sebelah barat laut kota Temanggung, sedang Sumbing di barat daya kota Temanggung. Hal yang menarik di daerah ini ialah dapat menjumpai puluhan colt dengan bak terbuka mengangkut pelepah pisang kering yang ditekuk dan disatukan dalam keranjang anyaman bambu. Ditumpuk. Menggunung. Mungkin, pelepah-pelepah kering tadi berhubungan dengan tembakau yang dihasilkan daerah ini. Sampai saat ini, aku masih penasaran tentang pelepah kering tadi. Adakah yang mau bantu menjelaskannya?
                Udara di daerah ini terhitung dingin. Meski panas sedikit menyentuh bumi, tak urung udara mampu menggigilkan tubuh. Kutangkupkan tangan mencipta kehangatan. Nafas pun sedikit-sedikit kuhembus melalui mulut. Mengakali keadaan.
                Jalanan yang dilalui menanjak, berkelok, dan curam. Jalanan khas pegunungan. Di beberapa bagian akan dijumpai hamparan ladang yang ditumbuhi tembakau. Menghijau. Berderet-deret lepas sampai ke tengah bukit. Di kaki-kaki Sindoro-Sumbing yang berdiri dengan gagahnya.
                Sepanjang perjalanan, hanya sedikit dijumpai tanaman teh, itu pun berada dipinggir jalan. Sedikit berwarna kecoklatan karena tertutup debu. Tampaknya tanaman ini masih kurang laku dan diminati petani sekitar ketimbang tembakau.
                Di perkampungan, aktivitas petani sangatlah mudah diamati. Sebagian besar telah melalui masa panennya. Tembakau yang telah selesai dirajang dan diiris halus, mereka jemur di terik matahari. Umumnya di depan rumah atau perkebunan. Lapangan dan tempat terbuka lainnya, juga dipenuhi tembakau-tembakau yang dijemur. Mereka menggunakan bambu yang dianyam datar dan kaku membentuk bidang selebar kurang lebih 1x2 m. Cara membaliknya pun cukup unik. Dua bidang anyaman bambu tadi ditangkupkan, lalu dibalik, begitu seterusnya.
                Sebelum sampai di wilayah perkotaan, turunan yang bisa dibilang curam. Sebuah papan menyita segenap perhatianku. Tertulis dengan jelas, ‘jalur evakuasi’. Di tempat kami, tulisan seperti ini menunjukkan jalur-jalur yang dianjurkan dilalui pengungsi semisal ada bencana alam seperti letusan gunung berapi. Umumnya menuju desa atau kecamatan. Tapi, di dataran tinggi seperti ini, tidaklah mungkin. Apalagi aktivitas Sindoro-Sumbing tidaklah pernah terdengar. Penasaranku ini berujung pada sebuah jalan bercabang di sebelah kiri jalan. Menanjak, lebar, berpasir berundak, dan buntu. Berpasir dan buntu?! Ikah tertawa, ia sudah tahu jawabannya. Jalur ini ternyata berfungsi untuk kendaraan roda empat yang kehilangan kendali karena rem blong, hingga jalur itu meminimalkan kendaraan tadi tidak keblabasan ataupun masuk jurang. Sesuatu yang sekali ini kutemui, tetapi tidak di daerah lain.
                Memasuki daerah kota Wonosobo, bidang sudah datar meski beberapa bagian jalan lebih tinggi dari rumah penduduk. Pemandangan asri, pohon-pohon tinggi tertata rapi di pinggir jalan, terkesan teduh. Sesampai di jantung kota, ternyata ada masalah. Aku benar-benar tak tahu di mana alamat mbak Nessa. Beberapa kali aku mencarinya di blog. Ya, nyatanya memang aku tak pernah bertanya alamatnya. Sedang alamat yang dulu pernah ia kirim ketika menghadiahi sebuah buku di hari ulang tahunku, aku lupa mencatatnya, tertinggal di kamar kost. Akhirnya, kutemukan petunjuk. Istana Rumbia, taman bacaan milik ibunya. Paling tidak kami tak kesasar sampai ke Dieng—kami berputar lagi ke selatan setelah melihat peta. Hei, ini jalan yang salah, Bung. Balik maning!
                Rumah mbak Nessa tepatnya di daerah Pasunten, Lipursari, Leksono--sebelah selatan kota Wonosobo. Setengah jam dari sana. Di sebuah pertigaan kami sedikit ragu karena tak ada penanda jalan. Sejenak berhenti dan bertanya kepada adik-adik yang sedang asyik berjalan. Dimana..dimana..oh dimana..
                Adik-adik menjawabnya dengan detail. “Ada pos ojek di sebelah kiri, naik terus Bang, terus…terus…nah, entar tanya lagi ya.” Rupanya, adik-adik tadi tak mengatakan kalau jalannya menanjak lalu menurun. Kami sempat ragu, apalagi setelahnya jalan menurun curam. Jangan dibayangkan itu jalan aspal ataupun beton. Jalan yang harus kami lalui untuk menuju perkampungan mbak Nessa hanyalah batu kali warna hitam disusun rapi. Saling menonjol dan di beberapa bagian hilang membentuk cekungan. Kami harus ektra hati-hati menuruni jalanan curam ini. Sisi kiri tebing sedang sebelah kanannya kebun lebat—boleh dibilang jurang karena letak jalan beberapa meter di atas kebun.
                Sampai perkampung pertama, kami bertanya lagi kepada adik-adik yang sedang bermain di depan rumah. Berharap kami sudah sampai, mengingat jalanan yang kurang bersahabat. Olala, nyatanya masih jauh. Demikian keterangan dari adik-adik. Selanjutnya, memasuki perkampungan, beberapa jauh jalanan dibeton, sebagian lainnya masih berupa susunan batu kali. Lebih ke dalam, ada jalanan kecil beraspal yang terawat. Sesampai di kampung kedua, kami berhenti memastikan. Bertanya lagi kepada seorang bapak yang sedang mengecat masjid. Bertanya, dimana..dimana..oh dimana..
                Sesuai dengan petunjuk si bapak. Akhirnya, kami sampai di Istana Rumbia, rumah ibunya mbak Nessa yang seorang penulis juga; Maria Bo Niok. Oleh adiknya kemudian kami diantar ke rumahnya. Tak seberapa jauh, melewati tanjakan bebatuan dan memangkas waktu sekitar lima menit.
                Tak pernah terbayang bahwa rumahnya mbak Nessa ternyata berada di kaki bukit. Naik turun jalanan curam penuh bebatuan. Jauh dari jalan utama. Udara di perkampungan itu lebih lembab dari daerahku. Begitu dinding-dinding rumah tersentuh. Nyeess..berasa sekejap seperti memegang es. Dingin.
                Adiknya menuju ke dalam, memberitahukan kedatangan dua orang tamu. Tak lama, dari pintu muncul sosok yang kutunggu. Inilah saat bertatapan langsung dengan mbak Nessa. Kopi darat akhirnya terlaksana setelah lama perjalanan tertempuh kurang lebih 3,5 jam. Waaa..betapa bahagianya :D
                Bagaimanakah kesan pertemuan dengan mbak Nessa Kartika? Apa yang menyebabkan kami langsung menuju ke Cirebon yang berarti mudik untuk kedua kalinya? Insya allah kita bertemu lagi di catatan perjalanan yang ketiga. Salam pena!

                *pondok delima, 121o2o11 18:o5

Senin, 10 Oktober 2011

Cacatan Perjalanan : Mudik 2011

23 Aug, H-7

                Seorang tukang sate yang menjadi langgananku menanyakan perihal kepulanganku ke kampung. Aku jawab, mungkin malam ini atau entahlah—aku belum memutuskannya. Malam telah beranjak ke isya, sedang saat itu aku pun belum ada niatan mudik. Semua berjalan seperti malam berikutnya. Di kost sendiri, sepi, dan berteman mimpi.

                Kuhubungi seorang rekan, menanyakan apakah besok adakah kerjaan di pabrik. Ia menjawab kosong. Semua akan kembali masuk kerja dua minggu lagi. Aku menimbang. Tak berapa lama kuambil keputusan ini. Segera pulang!

                Tanpa persiapan maksimal, kulakukan perjalanan jauh ini. Berbekal seadanya, aku memulai dengan mengucap basmalah. Semoga perjalanan lancar.

                Cirebon, sekitar pantura, angin bertiup sangat kencang. Aku merutuk dalam hati. Bukan karena kencangnya angin, tapi celana yang kupakai sangat tipis satu lapis. Menggigil aku sepanjang perjalanan ini. Menahan gemeretak dingin yang mulai menggigiti tulang. Berhitung, berbalik pulang tidaklah mungkin, sudah terlambat.

                Yang membuat perjalanan ini sedikit menyenangkan adalah mendapatkan teman seperjalanan.
Ada lima motor yang kini melaju di depanku. Mengular. Seperti saling paham, dari mereka tak ada yang saling salip. Semua berada di posisi semula. Berjalan beriringan satu-satu. Teratur. Motor paling depan adalah pemimpinnya. Pengatur laju juga petunjuk arah.

Tak jauh dari perbatasan di Brebes, mereka berhenti beristirahat. Seorang yang lain tetap melaju. Sebab perjalanan ini barulah satu jam, aku memutuskan tetap melaju meninggalkan rombongan tadi. Mereka memandangi kami sebagai isyarat salam perpisahan.

Nyatanya, H-7 masihlah sangat sepi. Di belakang lajuku hanya ada sebuah sepeda motor yang mengikutiku. Di depan, tak nampak sepeda motor yang melakukan perjalanan mudik. Untuk menyingkat waktu, kutambah laju dan meninggalkan seorang yang mengikutiku tadi.

Kembali dingin kurasakan. Jika begini aku hanya bisa memaki diri sendiri. Menyalahkan kecerdasan yang terlambat datang. Berapa aku melakukan perjalanan jauh ini? Hampir lima belas kali—dan dulu setiap dua bulan pastilah pulang. Bukankah setiap mudik pasti kedinginan? Apalagi waktu merembet semakin puncak. Pukul dua belas malam sesudahnya adalah masa kritis. Belum lagi hembusan angin laut yang bahkan jaket tebal pun mampu ditembusnya.

Laju kendaraan kini semakin melambat tertahan dingin. Sulit rasanya mengemudikan kendaraan dalam keadaan menggigil. Konsentrasi pastilah buyar. Pegangan setang pun semakin kaku. Berapa kendaraan motor mendahuluiku. Demi mengurangi kesakitan ini aku melaju di belakangnya.

Sampai di sebuah perempatan lampu merah di kota Tegal. Seorang pengemudi menyapa ramah ke arahku. Umurannya sekitar empat puluh tahunan. Sendiri, membawa perbekalan yang tak seberapa. Ia menanyakan tujuanku samakah dengannya, Semarang. Aku mengangguk meski nanti kami bisa saja berpisah di persimpangan Weleri, Kendal. Hal yang kusayangkan dari pengemudi tadi adalah satu. Ia tidak memakai sepatu, hanya sandal gunung tanpa kaos kaki. Terbayangkan, jika calana tipis saja begini gigilnya apalagi tanpa penutup sama sekali. Nampaknya, pengemudi ini baru sekali melakukan perjalanan jauh atau memang seperti aku—yang mengabaikan persiapan.

Perjalanan berikutnya kendaran mulai melambat, seperti kehabisan daya. Tentu bagi mereka bisa saja factor itu kelelahan karena melakukannya sedari siang tadi dari ibukota. Terpaksa aku meninggalkannya dan melaju, sedang pengemudi yang bertanya di lampu merah tadi masih mengikutiku.

Rupanya, tak hanya aku yang salah kostum. Beberapa kali di jalan, kutemui pengendara yang mengabaikan persiapan. Mereka memakai sweater tebal tetapi bawahan celana pendek. Semisal ia akan mendatangi mall atau konser saja. Padahal ini perjalanan jauh. Jika sudah selarut ini, perjalanan mereka tak ubahnya merambat bagai keong. Kaki-kaki diangkat dan disatukan. Kadang aku merasa kasihan. Sudah capek, dingin, tentulah punggung dan tangan mereka pegal sedemikian rupa.

Pengemudi di lampu merah terus mengikuti di belakangku. Kutambah laju seperti biasanya, mendekati ambang kecepatan maksimal meski dingin menggerus udara. Kadang, pengemudi itu tertinggal jauh. Bukan karena ia tak mampu mengejar, ini tersebab karena dingin yang membekukan kakinya hingga ia tak kuasa memacunya lebih kencang. Sesekali aku melambatkan laju, menunggunya. Namun, ketika sampai jalan mendekati terminal Pemalang, aku kehilangan jejaknya. Perjalanan kutempuh sendiri lagi.

Perjalanan panjang ini tentulah membosankan. Apalagi ketika melewati alas Roban. Kanan kiri gelap, berjejer ratusan jati yang rapat membungkus malam. Tak ada kehidupan perkampungan. Kadang mengharuskan aku untuk menghitung, berapa lama lagi akan tiba di tempat peristirahatan, di SPBU dekat perbatasan Batang-Kendal.

Setelah hampir satu jam menembus alas Roban, tibalah saatnya aku beristirahat di tempat ini. SPBU yang lapang, parkirannya luas, dan disediakan tempat peristirahatan untuk mereka yang melakukan perjalanan jauh. Beberapa tukang pijat tampak kelelahan dan tertidur, sedang penjaja makanan tak begitu antusias berkeliling.
Sebagaimana melintasi sebuah kota, terkadang menyelinap ingatan kenangan tentang seseorang. Aku mulai menjelajahi dunia maya dan mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Aku ingin mampir sejenak ke rumahnya, untuk janji kecil beberapa bulan silam.

Mata berat, saatnya istirahat.

***

Subuh, aku terbangun. Meski badan masihlah lemas karena hanya sekitar tiga jam tidur, kupaksa juga melanjutkan perjalanan usai sembahyang.

Kubuka pesan inbok di fb, tak ada balasan. Mungkin masih terlalu pagi. Jika jadi, perjalanan dari Weleri ke Wonosobo pun bisa dipastikan sekitar 2-3 jam, masih ada waktu.

Namanya, mbak Nessa. Aku mengenalnya lewat dunia maya sekitar setahun yang lalu saat sedang minat dan berburu lomba menulis di fb. Saat itu ia tengah berada di Singapura, bekerja sebagai BMI. Ia pernah mengabarkan kepulangannya sekitar Juli tahun ini. Mungkin ada beberapa hal yang menunda hingga bulan Agustus barulah tiba di tanah air. Sesuai janji kecilku dulu, aku ingin menemuinya di Wonosobo, kopi darat istilah kerennya.

Namun, sesampai Temanggung pun belum ada balasan. Aku khawatir ia sedang tidak ada di rumah jika acara kopdar dadakan ini. Perjalanan berlanjut ke Magelang.

Aku masih ingat, beberapa bulan lalu ketika melewati sebuah jalan di Muntilan, Magelang. Jalanan yang dipenuhi jutaan kubik pasir akibat letusan merapi kemarin lusanya. Bangunan kios ambruk tersapu lahar dingin, sedang yang masih berdiri, ruangannya dipenuhi pasir sempai sebatas internitnya. Seperti lautan, yang tersisa hanyalah pohon kelapa yang masih bertahan dari arusnya. Alat berat exvakator atau lidah jawa menyebutnya ‘bego’ dioperasikan untuk memindahkan pasir yang menutupi badan jalan. Batu sebesar kerbau, disisihkan di tepi jalan. Pemandangan yang menakjubkan sekaligus memprihatinkan. Puluhan orang berlomba mengangkut pasir untuk bahan bangunan atau dijual. Sedang beberapa pemuda-pemudi malam menjadikannya tempat rekreasi.

Jalan Magelang di Jogja. Entah kenapa, setiap melewati daerah tertentu, mampu memunculkan sosok-sosok yang bahkan aku tak mengenalnya langsung namun akrab. Begitu pula di kota Gudeg ini. Ingat kawan mayaku yang suka menulis. Ingat pula rekan kerjaku di perantauan. Seandainya suatu saat bisa sejenak mampir ke rumahnya.

Akhirnya, aku sampai di kampung sewaktu dhuha. Perjalanan yang tertempuh kurang lebih delapan jam lamanya ditambah masa istirahat. Sungguh melelahkan.

Tampaknya, catatan perjalanan ini belum selesai. Masih banyak cerita. Kopdar dengan mbak Nessa Kartika lusa harinya, lalu langsung menuju ke Cirebon. Esoknya mudik (lagi) ke Klaten. Dan seminggu kemudian berangkat ke Malang kopdaran dengan mbak Dew Faricha Hasan. Semoga aku bisa menuntaskan cerita ini. Sampai jumpa di catatan perjalanan ke dua.

*pondok delima, 1o1o2o11 o7:36

Sabtu, 08 Oktober 2011

Catatan Si Bolang : Nasib Sial Tiga Lembar Seribuan.


                Pernahkan kalian menemukan uang yang jatuh di jalan? Apa yang akan kalian lakukan? Tak besar sih, paling beberapa lembar ribuan saja. Namun, bagi kami bertiga, tiga lembar seribuan akan menjadi kisah yang tak mudah untuk dilupakan.
                Semester lima kelas tiga SMA, akhir 2004. Seperti biasanya, sepulang sekolah kami akan menelusuri jalan itu. Jalan kampung selebar badan kendaraan roda empat, beraspal, dan menyisir sebelah utara perkampungan itu. Jalan kecil yang jarang dilalui siswa ketika pulang sekolah.
                Tak ada yang istimewa setiap lewat jalan itu. Hanya sebuah bangunan tua dengan benteng setinggi orang dewasa yang berlumut dan lapuk dimakan usia. Sedang di kanan kirinya kebun lebat yang tak dirawat. Ada semacam – dalam pikiran kami—yang memberikan image bahwa di tempat itu ada penunggunya. Berhantu!
                Ah, mungkin karena pikiran buruk dari kami itulah nanti akan terjadi kisah konyol di sekitar jalan itu.
                Hari yang entah ke berapa, kami bersepeda melintasi jalan itu. Sebuah kertas tergeletak di tengah jalan. Melambai-lambai tertiup angin. Benar dugaan kami, ketika memunggutnya ternyata selembar seribu. Entah, pikiran apa yang merasuki, kami bertiga mencarinya lagi. Di rerumputan yang tumbuh sepanjang jalan. Dua..tiga..kebetulan sekali, tiga ribu masing-masing seribu.
                Lembaran tadi masih baru, wangi. Kami saling berpandangan. Melihat sekitar. Rumah tua, tembok lapuk, dan kebun lebat. Jangan-jangan ini , jebakan!
                Terlanjur, kami menemukannya. Sungguh sayang bila membuangnya kembali, apalagi seribu rupiah bisa untuk membeli dua mangkuk soto di sekolah. Bagaimana ini? Aha, seseorang punya ide!
                Sebenarnya, memalukan sekali menuliskan kisah selanjutnya ini. Tanpa pikir panjang, Gei—sebut saja demikian satu kawanku ini—berlari ke arah pohon yang agak rindang. Meletakkan selembar seribuan tadi lalu –maaf- mengencinginya tanpa rasa bersalah. Boi—sebut saja begitu temanku yang satunya—entah apa yang dipikirkannya, melegalkan perbuatan Gei. Tak membuang waktu, ia pun menirukan kelakuan Gei—ikut pula –maaf- mengencingi selembar lagi tak jauh dari Gei berdiri. Aku bengong. Tinggal selembar lagi di tanganku. Haruskah aku ikut melakukannya?
                Sebelum kewarasanku hilang, menirukan aksi kedua kawan sekampungku itu. Tiba-tiba dari tikungan tak jauh dari kami berhenti, serombongan siswi terlihat kalem mengayuh sepedanya. Rusuh. Mereka berdua menyegerakan hajatnya. Aku panik berteriak. Menyuruh mereka berdua segera bergegas ketika rombongan siswi semakin mendekat.
                Gei telah menyelesaikan hajatnya lebih dulu. Ia memetik selembar daun lalu mengambil lembar seribuan—yang kini basah dan bau pesing—dengan menjepitnya. Buru-buru ia naik ke sepeda bersiap mengayuh bersamaku. Justru Boi yang semakin kalap. Takut kami berdua meninggalkannya, tak sempat ia berpikiran panjang lagi. Ia menutup resletingnya dan tanpa hitung-hitungan mengambil selembar seribuan tadi dengan dua ujung jarinya. Hiii… Bergegas mengayuh sepeda di belakang kami.
                Sepanjang perjalanan kami tertawa. Oh, rupanya dua lembar bau pesing tadi, sekarang diangin-anginkan di setang sepeda.
                Siapa menyangka, lembaran yang kini mulai mengeras karena mengering ini punya catatan sial. Dari baunya yang wangi kini tak lebih bau dari kamar mandi. Siapa pula yang akan tahu bisa esok harinya bisa berubah menjadi dua mangkuk soto?
                Eh, emang benarkah guna-guna dalam uang tadi akan menghilang terkena air seni? Dasar Gei!
                Meskipun aku tak percaya bahwa uang-uang itu diberi guna-guna, tapi perasaanku masih kacau dan ragu. Sampai di kampung pun aku tak berani menyimpannya, apalagi menjajakannya. Oleh usulan Gei—uang tadi harus dipendam sehari. Jika hilang, berarti benar ada guna-gunanya. Jika tetap ada, berarti aman untuk dijajakan. Aha, lebih masuk akal daripada yang mereka berdua perbuat tadi. Akhirnya, seribuan yang terakhir ditimpa batubata di pekarangan Gei.
                Keesokan harinya Gei melapor. Aman. Uang tersebut masih utuh.
Lemas. Aku yang tak berharap banyak—dan masih takut-takut-- menyilahkan Gei mengambilnya saja. Dan dua mangkok sotoku pun musnah sudah.

*pondok delima, o81o2o11 19:19