Rabu, 02 November 2011

Topeng Berdarah.

              Dari stasiun, taksi membawaku menyusuri jalanan kota Edelweis. Kota tua yang tak pernah berubah semenjak kutinggalkan tiga tahun silam. Bangunan renta tak berpenghuni berderet di jantung kota. Menara tua masih berdiri tegak menantang angkasa. Puri-puri berselimut lumut di tepian garis pantai, lantang diterjang ombak, seakan menyimpan ratusan cerita. Pohon-pohon berumur abad, kuat berakar, dan uratnya menonjol meretakkan jalanan beraspal. Pekikan burung gagak yang menyeruak dari rimbunan bukit yang membiru, semakin menambah aroma mistis kota ini.

Jumat, 28 Oktober 2011

Catatan Si Bolang : Tukang Cukur Pitak.

               Senin kemarin, seorang rekan kerja berkomentar tentang penampilanku, “Rif, coba gih potong rambut. Kalo panjang gitu kan kamu kelihatan kucel.” Aku senyum tersipu, pingin garuk kepala nggak jadi, malu. Rekan yang lain ikut menimpali, ”Tuh, dengerin apa katanya.” Langsung pada disambut gelak tawa. Hei, ternyata masih ada juga yang memperhatikan ya. Besok senin, jika kita bertemu lagi, pasti potongan rambutku sudah pendek dan rapi, gumamku.
Pagi kemarin, sebelum mandi, aku bersiap dengan gunting dan sisir. Spion truk sudah ditegakkankan di tubir jendela. Menghadapnya, kumulai memainkan gunting di tangan kanan, sedang tangan kiri menggenggam sisir. Crash..

Selasa, 25 Oktober 2011

Catatan Perjalanan 6 : Pondok Kupu-kupu.

                Apa kabar, Kawan? Semoga kalian tidak bosan membaca catatan perjalanan saya yang terlalu panjang ini ya. Hehe.. setelah sampai di Malang, marilah kita lanjutkan kembali perjalanan ke pondok kupu-kupu di Wonorejo. Langsung saja ya. Selamat membaca!
                **
                Melelahkan, petang barulah tubuh ini bisa beristirahat. Tak sangka, perjalanan ke Malang ini menguras banyak energi. Udara dingin semakin menambah kekhawatiran. Mengusap kulit mencari hangat. Berkali aku bersin, hidung meler, sebelah mampet, dan sentrap-sentrup. Sedang mata rasanya pedas seperti terbakar. Untuk berjalan pun terasa lunglai, tulang bagai lepas dari sendinya. Namun, kupaksa untuk tetap tersenyum. Tak enak kepada Mas Sapee jika malahan akan merepotkan karena sakitku ini.